Kekayaan Alam untuk Kejayaan Intelektual
CATATAN DIK Kekayaan Alam untuk Kejayaan Intelektual
___________________________________________________________________________Sejarah mengajarkan kepada kita betapa Republik ini dibangun dengan tumpuan optimisme yang menggelora. Kita bisa mengingat, di tengah karut-marut negeri kita di awal kemerdekaan, para pemimpin tetap mampu memberi optimisme kepada rakyat. Mereka memberi semangat tentang Indonesia yang kaya raya, meski saat itu sumber daya manusia sama sekali belum bisa dibanggakan.Kita masih menganggap kekayaan terbesar bangsa Indonesia adalah sumber daya alam. Kita marah kalau bagi hasil tidak dilakukan dengan adil. Kita tahu berapa jumlah lifting, berapa jumlah batubara, ekspor-impor minyak kita tahu. Namun, begitu ditanya berapa jumlah Sekolah Dasar (SD) yang kita miliki, kita tidak tahu. Jumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan jumlah guru kita tidak tahu. Apakah kekayaan alam yang kita miliki telah mampu mengangkat kualitas sumber daya manusia kita? Inilah pertanyaan yang relevan kita sampaikan. Karena itulah, kita berharap, program CSR yang terus digalakkan perusahaan tambang akan menjamin transformasi kekayaan alam yang tak tergantikan menjadi kekayaan intelektual. Melakukan tansformasi kekayaan alam menjadi kekayaan intelektual, inilah poin utamanya. Inilah landasan mengapa dana CSR yang diberikan bukan berupa uang konsumtif, tapi harus ditransformasikan menjadi aset sumber daya manusia berkualitas.Kita juga ingin mempromosikan suatu transformasi kekayaan alam menjadi kekayaan intelektual yang lain. Bagaimana negara yang kaya dengan sumber daya alam ini dapat menyulap bangsa menjadi masyarakat yang lebih beradab dan sejahtera. Dari natural capital berubah menjadi human atau intelectual capital. Begitulah singkatnya.Jadi, ada mindset yang harus diubah di bangsa ini. Kita harus mengubah mindset kita, bahwa kekayaannya adalah pada manusia. Kekayaan Indonesia ke depan ada pada sumber daya manusia. Karena itu, kalau kita ingin memenangkan masa depan Indonesia, kita harus memikirkan pada pembangunan manusianya. Ketika bicara tentang manusianya, pendidikan menjadi aspek penting. Kualitas gurunya juga tak kalah penting, termasuk juga kurikulum pendidikannya. Intinya, sumber daya alam ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin, tak saja untuk kesejahteraan, tapi juga menjadikan masyarakat kian pintar dan berdaya saing di kancah global. Jika hari ini kita masih lebih hafal jumlah barel produksi minyak daripada jumlah guru, maka itu sama saja dengan pola pikir kolonial. Kolonial hanya berpikir kekayaan alam dan bagaimana mengisap kakayaan alam negeri ini untuk kepentingan bangsa mereka.Maka, sudah sepantasnya nasib rakyat kembali dijadikan orientasi. Hari ini paradigma baru yang harus dibangun adalah sumber daya manusia sebagai aset kekayaan bangsa ini. Jangan lagi terpaku lagi pada kekayaan alam sebagai orientasi. Untuk mewujudkan hal ini, tentu diperlukan komitmen kuat dari pemimpin bangsa. Tak selamanya kita akan mengandalkan kekayaan alam, karena kekayaan ini akan habis juga kelak. Karena itu, sebelum semuanya habis, mari kita berbuat sesuatu. Mari kita jadikan kecerdasan anak bangsa sebagai kekayaan sekaligus keunggulan kita berikutnya.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1037640
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT