Kusutnya Pengelolaan Migas Kita
CATATAN DIK Kusutnya Pengelolaan Migas Kita
___________________________________________________________________________Mari simak data berikut. Sebanyak 85 persen pengelolaan sumber minyak dan gas (Migas) di Indonesia dikelola asing. Dari 137 konsesi pengelolaan lapangan migas di Indonesia masih dikuasai oleh korporasi asing, yang juga menduduki 10 besar produsen migas di Indonesia. Mereka adalah Chevron Pacific (AS) berada di urutan pertama diikuti Conoco Phillips (AS), Total Indonesie (Prancis), China National Offshore Oil Corporation, Petrochina (China), Korea Development Company (Korea Selatan), dan Chevron Company (Petro Energy, 2007). Tentu, masih ada sederet perusahaan asing lain yang tak bisa kita sebut satu per satu.Jumlah tersebut belum memberikan keuntungan bagi negara lantaran kebijakan pemerintah yang tidak becus. Parahnya lagi, kuasa perusahaan asing telah memberikan dampak buruk atau kerusakan di semua daerah atau provinsi di Indonesia.Kekayaan Indonesia memang begitu berlimpah dibandingkan negara lain. Tapi jumlah rakyat miskinnya juga cukup banyak. Bahkan mencapai 120 juta jiwa. Ini karena kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam, khususnya dalam bidang energi tak berpihak pada rakyat. keberpihakan itu justru diarahkan pada pemilik modal dan penguasaan asing.Nyatanya, Indonesia hanya mengelola 15 persen Sumber Daya Alam (SDA) migas melalui PT Pertamina. Selebihnya dikelola oleh asing. Indonesia Timur adalah penghasil gas paling besar di Indonesia, tapi semuanya masih di kuasai oleh asing. Sumber gas di kawasan timur indonesia, dari Papua, Maluku, hingga Sulawesi dengan energi gasnya sebagian besar dikelola oleh asing., Menurut Ketua Presidium Centre of Excellent Gas and Oil East of Indonesia atau Pusat Keunggulan Riset Migas Indonesia Timur, Muhammad Asdar, negara hanya mendapatkan 30 persen dari hasil pengelolaan migas ini. Sedangkan 70 persennya diambil oleh asing.Semua pengelolaan minyak dan gas saat ini masih dimainkan perusahaan asing. “Sejumlah perusahaan asing beroperasi di Indonesia tak memberikan sumbangsih apapun bagi negara,” ujarnya.Praktek monopoli, atau bahasa kasarnya penjajahan dalam pengelolaan migas tersebut terus berlangsung. Pintu masuknya adalah melalui lembaga keuangan internasional yang mendorong kebijakan deregulasi guna memperkokoh liberalisasi ekonomi di Indonesia melalui transaksi utang luar negeri. Walhasil, negara kita membuka pintunya lebar-lebar, khususnya di sektor-sektor strategis, seperti pertambangan dan kehutanan bagi masuknya investasi asing. Pada akhirnya, kondisi lanjutannya bisa ditebak. Praktek de-nasionalisasi ekonomi, khususnya di sektor migas telah membentuk kembali susunan ekonomi Indonesia di bawah dominasi korporasi asing.Karena itulah, kita harus menyuarakan kembali aspirasi anak bangsa untuk memperjuangkan kemerdekaan yang sebenarnya, termasuk tanpa intervensi asing. Melalui momentum hari proklamasi, beberapa waktu lalu, kita juga perlu mengajak dan menyerukan kepada semua lapisan masyarakat untuk meneruskan cita-cita para pendiri bangsa ini.Mari kita bongkar dan berantas segala benalu di sektor migas kita. Kita pun perlu mendukung langkah KPK untuk mengusut tuntas kasus korupsi di sektor migas sampai ke akar-akarnya. Saatnya pula kita memberikan kesempatan pada anak bangsa sendiri untuk mengelola industri migas tanpa bergantung pada asing.Jumlah kekayaan alam Indonesia sangat besar, tapi masyarakatnya belum menikmatinya. Masyarakat di daerah yang memiliki kandungan migas yang begitu melimpah, lebih cenderung hidup dalam dunia budaya petani, pelaut, dan lain-lain. Sungguh ironis!
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1036074
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT