Upaya Meningkatkan Ketahanan Energi
CATATAN DIK Upaya Meningkatkan Ketahanan Energi
___________________________________________________________________________Kendati Indonesia kaya akan keaneka ragaman energi, bukan berarti kita pempunyai ketahanan dan kemandirian energi yang tangguh. Bila dibandingkandengan Singapura, misalnya, namun negara ini mampumenciptakan kemandirin energi. Pasalnya, negaraini tidak mengalami kesulitan memenuhi kebutuhanenergi, baik dari aspek penyediaan energi, distribusidan daya beli masyarakat. Itulah realita yang terjadi disini.

Ketahanan energi merupakan kemampuan merespondinamika perubahan energi global (eksternal), dan kemampuan menjamin ketersediaan energi dengan harga yang wajar (internal). Sedangkan kemandirianenergi, dapat dicapai dengan melihat tiga indikator.
Pertama, ketersediaan energi. Ini merupakan kemampuan memberikan jaminan pasokan energi, aksesibilitas dan daya beli masyarakat.

Kedua,aksesbilitas yang merupakan kemampuan mendapatkanakses terhadap energi dan ketiga,daya beli masyarakatatau merupakan kemampuan menjangkau harga(keekonomian) energi.Ketahanan dan kemandirian energi saling berpengaruh satu satu sama lain. Untuk melihatseberapa kuat ketahanan energi suatu negara, perlu dilihat sejauh mana suatu negara memilikikemampuan dalam memenuhi indikator kemandirian energi. Dari segi ketersediaan, Indonesia memiliki energy supply dengan keragaman yang berlimpah.

Namun, dari aspek aksesibilitas dan daya beli, kemampuan Indonesia masih belum optimal.Berbeda dengan Jepang dan Arab Saudi yang sudah cukup memadai dari aspek security of supply, aksesibilias maupun daya beli.

Sementara permintaan energi global dalam beberapadekade terakhir sebagian besar dipenuhi dengan bantuan kemajuan teknologi di sektor energi. Namun, kenyataannya kita tetap masih hidup di dunia yangpenuh kelangkaan, sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan terutama di area sumber daya energikonvensional.

Di lain pihak, konsumsi energi primer kita meningkatlebih dari 50 persen sejak tahun 2000 hingga 2010.Sedangkan produksi minyak kita terus menurun. Bila pada tahun 1990-an produksi minyak kita mencapai puncaknya sebesar 1,6 juta barel per hari.

Berdasarkan Keppres N0.5 tahun 2006 tentang Kebijaksanaan Energi Nasional (KEN) menyebutkanbahwa sampai 2025, konsumsi minyak bumi lebih kecil atau sama dengan 20%, gas 30%, batubara 33%, panasbumi 5%, bahan bakar nabati 5%, energi baru danterbarukan (nuklir, angin, surga dll) 5% dan batubara dicairkan 2%.

Namun demikian, Keppres tersebut disinyalir tidak akan terealisasi. Hal ini disebabkan karena konsumsiBBM masih disubsidi, sehingga energi baru terbarukan masih terlalu mahal untuk dioptimalkan. Mungkin ada baiknya pemerintah memberikan insentif bagi pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia.Apalagi energi ini potensinya sangat besar di Indonesia.Oleh karena itu, bila kita berhasil mengembangkan pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia,maka ketahanan energi kita makin tangguh. Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah yang sejak dulu tak terselesaikan hingga kini.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1036042
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT