Bangka Belitung Timah Mengalir Sampai Jauh
DAERAH Bangka Belitung Timah Mengalir Sampai Jauh
___________________________________________________________________________Bukan menjadi rahasia lagi jika Kepulauan Bangka-Belitung (Babel) dikenal sebagai penghasil timah dunia. Tak ayal, dengan kayanya tanah Babel akan bijih timah memicu konflik yang menimbulkan gejolak di masyarakat. Berdasarkan sejarahnya, Timah Babel dimulai sejak abad ke-18. Hingga akhirnya pada tahun 1997, pengawasan juga pengaturan tata niaga timah diperketat oleh pemerintah juga perusahaan, mulai tahap eksplorasi hingga dilemparkannya timah Babel ke pasar internasional. Tentunya dengan pertimbangan status hukum, komoditi ini diatur dengan PP No. 27 tahun 1980. Dengan artian, timah termasuk ke dalam bahan galian golongan A dengan klasifikasi strategis sama halnya dengan batubara. Pada tahun 1997-1998, dikenal sebagai fase awal rangkaian krisis ekonomi terutama kawasan Asia, pemerintah membuat banyak pergantian kebijakan yang mengarah pada peningkatan devisa negara. Melalui PT Timah juga PT Koba Tin saat itu Indonesia mampu menguasai pangsa pasar timah dunia sampai 25 persen dari total kebutuhan pasar timah internasional yang berkisar 200.000 ton. Seiring berjalannya era reformasi yang diikuti implementasi otonomi daerah telah membuat perubahan status wilayah Babel yang mulanya salah satu kabupaten Propinsi Sumatera Selatan menjadi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tentunya perubahan ini membuat polemik di Babel makin kompleks, terlebih dalam masa transisi ini situasi dan kondisi pemerintah daerah masih jauh dari kata tertata. Ambisi pemerintah daerah menjadikan Kabupaten/kota untuk memposisikan timah sebagai salah satu sumber Pendapatan Anggaran Daerah turut terkendala. Kawasan yang berpotensi mengandung timah telah berada di bawah kuasa penambangan PT Timah juga Kontrak Karya PT Koba Tin. Pada ujungnya, pemerintah kabupaten dan kota membuat kebijakan yang seringkali tidak sejalan dengan kebijakan nasional. Sebagai contoh diterbitkannya SK Bupati Bangka No. 6 Tahun 2001 yang memberikan ruang pada pemerintah kabupaten/kota, pengusaha lokal maupun masyarakat memiliki ruang untuk membuka usaha penambangan.Bahkan hingga saat ini timah menjadi tumpuan utama ekonomi masyarakat Babel. Hal ini bahkan sampai menimbulkan persepsi umum jika timah lebih mampu mendongkrak perekonomian masyarakat Babel dibanding lada atau aktivitas perekonomian lainnya.Mirisnya, penggalian lahan oleh tambang inkonvensional (TI) darat dan pengerukan dasar air laut oleh TI apung semakin massif tidak terkendali. Hal ini mengakibatkan terjadinya perubahan peruntukan lahan menjadi tidak sebagai mana mestinya sehingga memicu degradasi lingkungan. Upaya pemerintah maupun perusahaan besar untuk mencari solusi meredam aktivitas TI bukannya tidak ada. Namun, sepertinya memang tidak cukup efektif, apalagi sarat akan kepentingan banyak pihak di dalamnya. Sehingga TI bukan berkurang namun justru makin menjamur di Babel. Kemunculan TI sendiri secara tidak langsung juga merupakan dampak dari kinerja PT Timah yang terus menurun. Sebagai gambaran, pada awal maraknya TI, kinerja perusahaan pelat merah itu dalam kurun waktu 1999-2001 gencar diberitakan media menurun. Hal ini terjadi karena inefisiensi kerja perusahaan. Untuk mengendalikan perdagangan bebas pasir timah, sejak 1999 pemerintah telah mencabut kebijakan tata niaganya. Bahkan Dirjen Perdagangan Luar Negeri menerbitkan Keputusan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri No. 02/DJPLN/KP/II/2002 tentang Tata Cara dan persyaratan Ekspor Bijih Timah. Ternyata hasilnya, kemelut timah Babel tidak ada perubahan yang signifikan, sampai akhirnya pemerintah pusat segera mengeluarkan banyak kebijakan baru dengan melibatkan banyak stakeholder seperti kepolisian, perusahaan, pemerintah daerah yang bersinergi dengan KESDM dan Kementerian Perdagangan. Berita penyelundupan timah faktanya terus berlangsung pada tahun 2002 walau keran tata niaga bebas telah ditutup. Salah satu aksi penjarahan terbesar dalam kurun waktu 1999-2002 terjadi di daerah Terenteng, Bangka Tengah. Aksi terang-terangan dilakukan sekitar 1500 penjarah pasir timah milik PT Koba Tin yang berujung penghentian operasi 2 kapal keruk milik perusahaan yang sahamnya didominasi oleh Malaysia ini. Sayangnya, meskipun diturunkan satu peleton Brimob, mereka hanya bisa menghalau tapi tidak berani melarang para penjarah. Faktor lain yang menyulitkan pemberantasan penyelundupan pasir timah ke luar negeri khususnya Singapura yaitu tingginya harga timah dibanding harga yang dipatok PT Timah dan PT Koba Tin. Untuk menampung pasir timah TI yang melimpah, juga sebagai upaya menekan penyelundupan lintas pulau dan luar negeri timbullah pemikiran dari pemerintah Kabupaten dan Kota untuk mengolah sendiri hasil timah dengan pendirian industri smelter. Smelter yang didirikan dengan izin yang diterbitkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah ini juga menampung pasir timah yang melebihi kapasitas pengolahan PT Timah dan PT Koba Tin. Terhitung sejak tahun 2002-2004 perusahaan smelter di Bangka Belitung mencapai 24 perusahaan. Yang mengejutkan banyaknya smelter ternyata diiringi dengan semakin menjamurnya TI. Hal ini karena hampir semua smelter yang ada di Bangka tidak memiliki lokasi tambang untuk memenuhi kebutuhan bahan baku mereka yang cukup tinggi.Para penambang TI mulanya bekerja di se­kitar tailing-tailing PT Koba Tin dan PT Timah atau tanah garapan mereka sen­diri. Namun, parahnya saat sulit me­nemukan lahan yang potensial mereka justru menggali di kawasan reklamasi. Tak heran jika hutan lindung, hutan produksi, sampai lahan pertanian/perkebunan juga dibabat habis untuk dijadikan lahan tambang. Hingga akhir tahun 2012 penambangan inkonvensional semakin tidak terkontrol. Penambangan liar ini bahkan merambah daerah terlarang seperti daerah aliran sungai, instalasi PAM, hutan lindung juga mengancam fasilitas umum seperti jalan raya, pemukiman, dan pemakaman.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1074372
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT