Kepak Sayap Menyongsong Emas 2030
DAERAH Kepak Sayap Menyongsong Emas 2030
___________________________________________________________________________KABUPATEN MURUNG RAYABila masyarakat Kabupaten Murung Raya menuntut menggapai mimpi itu, memang bukan tanpa alasan. Betapa tidak, sejak lahirnya UU N0. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahaan Daerah, menjadi landasan hukum melakukan akselerasi pembangunan di Murung Raya. Sebelum adanya UU tersebut, daerah ini hanya wilayah kerja pembantu Bupati Barito Utara. Tapi dengan berlakunya UU Otonomi Daerah tersebut, Murung Raya justru menjadi wilayah kecamatan, yang terdiri dari lima kecamatan, yaitu kecamatan Murung, Tanah Siang, Laung Tuhup, Permata Intan dan Sumber Barito.Para tokoh masyarakat Murung Raya saat itu tak puas dengan status administrasi daerahnya. Mereka membentuk Komite Pembentukan Kabupaten Murung Raya. Komite ini mempersiapkan berbagai kelengkapan untuk mengusulkan pemekaran wilayah Murung Raya menjadi sebuah kabupaten baru yang definitif. Dasar pertimbangannya agar efektivitas pemerintah dan pelayanan masyarakat lebih cepat. Mengingat luasnya wilayah ini serta Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang potensial.lhasil pada 2 Juli 2002 – dengan ditetapkannya Undang-Undang N0. 5 tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten. Sedikitnya ada delapan kabupaten hasil pemekaran wilayah, termasuk Kabupaten Murung Raya. Pejabat Bupati pertama Murung Raya adalah Drs. Romansyah Bagan untuk periode 2002 hingga Juli 2003. Setelah itu terpilih Bapak Dr. Willy M. Yoseph masa bakti 2003 – 2008. Dan kedua kalinya beliau terpilih menjadi Bupati Murung Raya untuk masa bakti 2008 – 20013. Di bawah kepemimpinan Yoseph, mencanangkan tekad merdeka dari kebodohan, kemiskinan dan keterisolasian. Berlahan, tapi pasti realisasi visi itu mengalami kemajuan. Dan, estafet kepemimpinan di Murung Raya pun berganti. Melalui pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Murung Raya, Drs. Perdie, M.A dan Darmaji SE terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati untuk masa bakti 2013 – 2018. Pembangunan menuju Murung Raya Emas pada 2030 dititipkan masyarakat kepada Sang Bupati.Sejauh ini, otonomi daerah telah memberi peluang sekaligus tantangan bagi daerah untuk mengelola potensi sumber daya alamnya. Oleh sebab itu sudah saatnya pemerintah daerah segera membenahi manajemen pengelolaan sumberdaya alamnya agar sesuai dengan potensi dan kondisi daerah, serta wewenang dan perkembangan kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah pusat, lihat http://antoniuspatianom.wordpress.com.Berdasarkan inventarisasi yang telah dilakukan selama ini, dapat disimpulkan bahwa hampir setiap daerah mempunyai kekayaan sumber daya mineral dengan macam dan ukuran yang berbeda. Karena itu penyelidikan lanjutan oleh daerah akan lebih mengenai sasarannya bilamana secara selektif diarahkan kepada mineral yang dari pola umum sudah dapat dipastikan potensial terdapat di daerah tersebut.Melalui manajemen kebijakan, kepemimpinan dan tindakan yang tepat, akan mudah mengundang investor agar berinvestasi di daerah. Masuknya penanam modal ke daerah terutama dalam sektor pertambangan merupakan keuntungan bagi daerah tersebut. Mengingat pengelolaan sektor pertambangan membutuhkan modal yang tidak sedikit, keahlian dan teknologi tinggi, dimana kesemuanya belum dimiliki oleh rata–rata daerah otonom di Indonesia.Menurut Bupati Murung Raya, Perdie, Pemerintah Kabupaten (Penkab) Murung Raya telah melaksanakan beberapa program untuk memerdekakan masyarakat Murung Raya dari kemiskinan, kebodohan dan keterisolasian. Banyak hasil nyata telah dicapai, diantaranya terbangunnya infrastruktur dasar yang dibutuhkan masyarakat, baik pembangunan fisik, prasarana, pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi dan program sosial yang menyentuh masyarakat miskin, seperti pendidikan gratis dan pengobatan gratis. Memang bukan pekerjaan mudah untuk mewujudkan visi menuju Murung Raya Emas 2030. Keunggulan kompetitif yang dimiliki Murung raya, sektor kehutanan dan perkebunan, serta pertambangan menjadi daya tarik investor berinvestasi di sini. Sumber daya hutan dan kebun, umpamanya, merupakan potensi yang sangat strategis di sini. Ada pun hasil hutan di Murung Raya adalah kayu bulat, rotan, damar dan sebagainya. Sedangkan sektor perkebunan menjadi primadona dan penggerak ekonomi masyarakat. Diantaranya adalah perkebunan karet, baik yang dikelola oleh perusahaan maupun dikelola oleh masyarakat.Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.292/Menhut-11/2011 bahwa luas area hutan di Kabupaten Murung Raya adalah 2.369.999 hektar. Luas tersebut terdiri dari 1.029.861.134 ha hutan produksi, 544.662.469 ha hutan lindung, 233.473.233 ha cagar alam, 228.382.116 ha hutan produksi tetap, 200.011.443 hutan yang dapat dikonversikan dan 133.608.605 ha hutan yang belum jelas peruntukannya (belum ada data peruntukannnya-red).Sektor pertambang di Murung Raya mengundang daya tarik investasi. Betapa tidak, daerah yang berada di ketinggian 100 – 500 m di atas permukaan laut ini kaya akan berbagai mineral bernilai ekonomi tinggi. Kekayaan bahan galian tambang di kabupaten ini digolongkan menjadi tiga kategori. Kategori pertama, golongan A, yang merupakan bahan galian strategis, seperti minyak, gas bumi, dan batubara. Kategori kedua, golongan B, di mana dalam kategori ini meliputi emas, intan dan antimonite. Ketiga, bahan galian golongan C, seperti batu kapur, bentonite, basal, phospat, kaolin, mika, andesit, granit dan grabo.Sampai akhir 2013, ada beberapa perusahaan yang telah menyelesaikan tahap eksplorasi dan studi kelayakan dan membenahi manajerial untuk memasuki tahap kontruksi dan menuju tahap produksi. Diantaranya adalah PT. Loa Haur dan PT. Semesta Alam Barito.Sementara cadangan batubara dan emas di kabupaten Murung Raya cukup besar. Sampai tahun 2014, jumlah sumber daya batubara tereka sekitar 330 juta ton. Sedangkan jumlah sumber daya emas sekitar 14.614 Kilo Ton Mineral Resources.Berdasarkan statistik daerah Kabupaten Murung Raya 2014, produksi pertambangan Murung Raya, tahun 2011 – 2013, produksi batubara mencapai 3,73 juta ton pada tahun 2011, 3,22 juta ton pada tahun 2012 dan 2,95 juta ton pada tahun 2013. Produksi emas 708 kg pada tahun 2011, 876 kg pada tahun 2012 dan 717 kg pada tahun 2013. Sementara data peran sektor ekonomi terhadap Produk Domestic Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten Murung Raya masih didominasi sektor pertambangan dan penggalian. Pada tahun 2008 persentase sektor ini mencapai 32,35%. Angka ini meningkat menjadi 39,08 % pada tahun 2012. Menyusul sektor pertanian yang memberikan sumbangan PDRB sebesar 23,77% pada tahun 2012. Angka ini memang menurun jika dibandingkan pada tahun 2008 sebesar 32,83%. Penurunan ini disebabkan karena adanya larangan pembakaran lahan. Diduga hal ini sebagai penyebab penurunan tersebut, karena masyarakat Murung Raya terbiasa melakukan pembakaran lahan untuk membuka lahan pertanian baru.Fenomena ekonomi yang terjadi di Kabupaten Murung Raya pada tahun 2013 lebih identik dengan perlambatan yang dialami oleh ekonomi nasional. Pertumbuhan Murung Raya pada tahun 2013 mengalami perlambatan dari sebesar 6,69% pada tahun 2012 menjadi 6,67% pada tahun 2013. Meskipun perlambatannya tidak sedalam yang dialami perekonomian nasional.Akhirnya, Pemerintah Kabupaten Murung Raya mengajak seluruh masyarakat Murung Raya khususnya dan masyarakat luas tanpa ketercuali, termasuk dunia usaha dan swasta untuk bersama-sama dengan semangat “Tira Tangka Balang atau membangun Murung Raya, Bumi Tana Malai Tolung Lingu “ menjadi Kabupaten yang maju, berbudaya, makmur dan sejahtera.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1073667
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT