Alihkan Subsidi BBM ke Sektor Transportasi Publik
EDITORIAL NOTE Alihkan Subsidi BBM ke Sektor Transportasi Publik
___________________________________________________________________________Mengalihkan kontroversi dengan memunculkan kontroversi baru. Ungkapan ini sepertinya cocok dengan apa yang tengah terjadi saat ini. Di tengah hiruk pikuk dan karut marut pengelolaan sektor migas sekarang ini kita dikejutkan dengan terbitnya kebijakan baru soal konsep mobil murah dan ramah lingkungan, atau low cost and green car (LCGC). Terlebih program pengadaan impor mobil murah dengan label mobil ramah lingkungan ini dinilai menyesatkan. Mengingat murahnya harga mobil tersebut lebih disebabkan oleh fasilitas pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), bukan basis harga yang memang lebih murah. Lagipula, mobil tersebut juga tidak termasuk kategori ramah lingkungan karena masih tetap menggunakan bahan bakar minyak (BBM), bukan sumber energi terbarukan seperti biofuel.Artinya, kemungkinan meningkatnya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tidak tepatnya alokasi subsidi akan makin besar. Meski terlihat terpisah sesungguhnya kebijakan energi, fiskal, industri, dan transportasi merupakan satu kesatuan utuh. Tingginya subsidi energi akan berpengaruh pada perekonomian domestik karena memberatkan APBN, membatasi anggaran untuk mengentaskan kemiskinan dan infrastruktur serta menghambat daya saing energi terbarukan. Terlebih lagi LGCC di dalam struktur harga tidak dimasukkan komponen pajak. Ini artinya cuma murah bagi kepentingan importir dan pengusaha, sementara negara menjadi rugi karena kehilangan potensi pendapatan pajak. Alangkah lebih baik jika kebijakan tidak masuknya komponen pajak tersebut dialihkan untuk sektor transportasi umum. Dengan demikian, biaya perawatan sekaligus operasional yang berimbas pada mahalnya harga transportasi umum bisa ditekan. Pada sisi lain kenyamanan kendaraan umum yang selama ini dikeluhkan oleh masyarakat bisa ditingkatkan fasilitas maupun layanannya. Selanjutnya, diharapkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan kendaraan umum sedikit demi sedikit bisa ditingkatkan. Karena, bagaimanapunn, budaya sebuah Negara bisa dilihat pada masyarakatnya di jalan raya. Hal ini pernah dikatakan oleh Enrique Penalosa, Wali Kota Bogota (1999-2002). Menurutnya, kota yang maju bukan dilihat dari kondisi bahwa orang miskinnya bisa membeli mobil, melainkan ketika orang kayanya menggunakan transportasi publik.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1036094
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT