Satu Tarikan Nafas antara SDA ke SDM
EDITORIAL NOTE Satu Tarikan Nafas antara SDA ke SDM
___________________________________________________________________________HILIRISASI DI INDUSTRI MINERALIndonesia kaya akan sumber daya alam (SDA), tetapi kekayaan itu tak mampu mengangkat negeri ini menjadi negeri yang kaya raya. Kekayaan itu hanya dinikmati para kapitalis yang umumnya berasal dari luar negeri. Sementara pendapatan negara tak signifikan, sehingga potensi itu “jauh panggang dari api” untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.Apa yang salah dari kondisi itu? Jawaban sederhana! Kita tak mampu mentransformasikan SDA menjadi Sumber Daya Manusia (SDM). Ketua Indonesia Mining Association/Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) Martiono Hadianto dalam sarasehan bertajuk: Optimalisasi Pendapat Negara di Sektor Minerba, yang diselenggarakan Megawati Institut, September lalu mengatakan, sesungguhnya, bila kita ingin menjadi negara maju, krusialitas yang utama adalah bagaimana cara meningkatkan kualitas manusia-manusia Indonesia. Dan itu sudah terbukti, bahwa di negara-negara maju tidak menggantungkan pertumbuhan ekonominya pada SDA, tapi justru pada kreativitas dan produktivitas SDM.Lantas, apa kaitannya antara kekayaan SDA dengan kreativitas dan produktivitas SDM. Kedua unsur itu ibarat “satu tarikan nafas”, dalam garis liner. Antara hulu dan hilir atas kekayaan SDA merupakan satu kesatuan yang out put-nya harus meningkatkan nilai tambah dari setiap proses. Bila selama ini pemerintah hanya puas menerima royalty dari setiap kegiatan eksploitas sumber daya mineral, maka jangan harap negeri ini dapat makmur.Akibatnya bertahun-tahun SDA kita “disedot” para kapitalis. Kita hanya puas mendapat royalty dan pajak badan usaha dari perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor SDA. Dalam UU N0. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, mulai ada kewajiban perusahaan pertambangan untuk melakukan kegiatan hilirnisasi, di mana perusahaan pertambangan wajib membangun pabrik pemurnian mineral (smelter). PT. Freeport Indonesia (FI) membayar uang jaminan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) senilai 115 juta dolar AS. Nilai jaminan yang ditempatkan di rekening penampungan sementara (escrow account) pemerintah itu setara dengan 5% dari investasi smelter 2,3 miliar dolar AS. Kesediaan membangun smelter tersebut akan diberikan insentif fiskal berupa pengurangan bea keluar ekspor konsentrat.Dalam rangka menghadapi era hilirnisasi di industri mineral, diperlukan SDM yang kreatif dan inovatif dalam melihat peluang di sektor hilir industri pertambangan mineral di Indonesia. Pemerintah harus mampu mentransformasi potensi SDA menjadi potensi SDM. Caranya? Perlu melakukan optimalisasi pendapatan negara di sektor minerba, khususnya di sektor hulu yang selama ini dinilai belum maksimal. Di sektor pajak, misalnya, perlu digenjot lagi pendapatan dari pajak badan usaha pertambangan. Menurut Martiono Hadianto, ada perusahaan pertambangan yang tidak punya NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Kalau pun ada perusahaan pertambangan yang punya NPWP, tapi tidak membayar pajak.Pemerintahan ke depan harus berani melenyapkan “mafia-mafia Pajak”, sehingga pendapatan negara di sektor ini bisa lebih maksimal. Apalagi pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla punya program Indonesia Pintar dan Indonesia Sehat. Program ini perlu dana yang tidak sedikit. Bila program ini berjalan, maka transformasi SDA menjadi SDM dapat berjalan. Dan kelak akan lahir SDM-SDM unggulan yang dapat mensejahterakan bangsa ini.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1052778
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT