T. Guntur Pasaribu: Financial & Private Equity Consultant
EKSEKUTIF T. Guntur Pasaribu: Financial & Private Equity  Consultant
___________________________________________________________________________Industri pertambangan merupakan sektor bisnis yang sangat padat modal. Dalam menggerakkan roda usaha dan menjaga kesinambungan operasionalnya banyak perusahaan tambang yang membutuhkan capital cukup besar. Karena itu, tak heran jika banyak perusahaan tambang yang bekerja sama dengan lembaga keuangan baik bank maupun non bank untuk menutup capital tersebut. Salah satu perusahaan yang bergerak dalam lingkup usaha jasa keuangan non bank yang bisa dijadikan rekan kerja perusahaan tambang itu adalah markAsia Strategic. Bergerak sebagai Financial Consulting dan Private Equity (Investment) markAsia Strategic bisa dikatakan lebih komprehensif dalam memberikan layanannya.Menurut Presiden Direktur markAsia Strategic T. Guntur Pasaribu, dalam menangani klien terutama perusahaan tambang, markAsia Strategic lebih dahulu mempelajari perusahaan calon klien secara menyeluruh. “Banyak perusahaan apapun itu termasuk tambang ketika kita mau masuk jarang dari mereka yang siap,” ujar Guntur. Mantan Direktur Bursa Efek Indonesia tersebut mengatakan, markAsia perlu masuk sebagai konsultannya terlebih dulu kemudian melakukan restrukturisasi. “Kalau sudah cocok baru dibuatkan formula untuk eksekusi atau pelaksanannya,” lanjutnya. Langkah strategis dalam menangani masing-masing perusahaan tentu berbeda. Sebagaimana dicontohkan Guntur dalam membantu salah satu kliennya dari perusahaan tambang batubara. Perusahaan tersebut mampu memproduksi batubara sekitar 200 ribu ton per bulan dan telah melakukan ekspor ke India. Padahal sebelum ditangani markAsia, produksinya hanya 50 ribu ton per bulan. “Karena ada rencana yang lebih besar lagi maka kita akan masukkan dana sekitar US$ 30-US$ 50 juta. Dana itu akan kita gunakan untuk mengakuisis beberapa tambang dan kontraktor,” papar Guntur. Upaya akuisisi khususnya terhadap beberapa perusahaan kontraktor merupakan bagian dari stra­tegi menambah pendapatan. “Dari hi­tung-hitungan kita jika perusahaan me­ngerjakan sendiri tanpa kontraktor bisa mengambil margin US$ 5-10 per ton,” ungkap Guntur. Sejauh ini, markAsia memang cukup selektif dalam memilih klien. Perusahaan yang belum baik kinerjanya tapi masih memiliki potensi berpe­luang untuk ditangani markAsia. Kare­na menurut Guntur, consulting dan investment sama seperti egineering juga. “Jadi kita harus memperbaiki tanpa harus menutupi kebobrokannya. Dibutuhkan sense of financial engineering, karena tugas kita adalah meng-eggineer sampai perusahaan itu memiliki value di mata investor,” tegasnya. Misalnya untuk perusahaan yang ber­gerak di bidang batubara. Kalau status perusahaan belum produksi tapi pu­nya Izin Usaha Pertambangan (IUP) operasi produksi dengan status Clear and Clean (CNC), berlokasi tidak terlalu jauh dari sungai yang bisa dilewati tongkang minimal 250 feet, memiliki cadangan banyak dan bisa dibuktikan kebenarannya markAsia bisa bantu financingnya.Sejauh ini, dari pengalaman dalam menangani berbagai perusahaan, Guntur menyimpulkan bahwa problematika se­cara umum perusahaan tambang di Indonesia bisa dibagi menjadi lima. Pertama adalah capital disusul yang kedua market lalu expertice kemudian managerial dan environment. Menurut Guntur banyak perusahaan yang tersendat produksinya karena kekurangan modal ditambah ketidakmampuan mereka membuka pasar. Belum lagi ketiadaan tenaga ahli un­tuk melakukan efisiensi kinerja dan dukungan manajemen yang baik juga menjadi persoalan. Keruwetanpun kian bertambah karena masalah klasik soal pengabaian penanganan lingkungan dan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap masyarakat sekitar. “Semuanya harus dibenahi dan ditangani secara bersama-sama karena saling menunjang satu dengan yang lainnya,” tegas Guntur.Sedangkan untuk perusahaan yang su­dah memiliki performa cukup ba­ik markAsia juga tak segan untuk menggiring perusahaan tersebut mema­suki pasar modal. “Perusahaan untuk bisa masuk Initial Public Offering (IPO) itu sebenarnya tidak susah asal mampu memenuhi beberapa kriteria,” ujar Guntur. Adapun syarat itu antara lain perusahaan telah berhasil mendapatkan keuntungan bersih selama tiga tahun berturut-turut serta memiliki aset sebesar Rp 100 miliar. “Tapi kalau belum sampai tahap itu kita bisa bantu untuk semi go public terlebih dahulu, carannya dengan diakuisisi oleh perusahaan go public,” terang Guntur. Di tengah jatuhnya harga batubara seperti sekarang Guntur melihat diperlukan institusi yang berfungsi sebagai market stabilizer. “Pemerintah lewat PLN yang konsumsi batubaranya sangat besar bisa jadi market leader dari semua grup BUMN untuk membuat satu trading company yang bisa mengcreate lindung nilai pasar batubara,” papar Guntur. Artinya, ketika harga batubara jatuh lem­baga market stabilizer ini akan mengambil dan menampung produksi batubara per­usahaan nasional dan begitu market bagus bisa dilepas ke pasar atau dikonsumsi sendiri. “Tapi supaya fair saat harga batubara bagus dan stabil perusahaan nasional juga harus memberikan batubaranya sesuai kuota yang telah ditetapkan untuk konsumsi nasional, jadi tidak semuanya diekspor,” ujar Guntur.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1073752
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT