Natsir Mansur; Sebuah Amanah untuk Bangsa
ENTERPRENEUR Natsir Mansur; Sebuah Amanah untuk Bangsa
___________________________________________________________________________Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pember­dayaan Daerah dan Bulog, Natsir Mansyur memantapkan kaki menembus bisnis industri pengolahan dan pemurnian (smelter) yang dinamainya PT Indosmelt. Perusahaan Copper Smelter Refinery Pemurnian yang didirikannya ini bergerak di bidang smelterisasi katoda tembaga, asam sulfat untuk industri pupuk, terak tembaga, juga lumpur anoda. Ketika pertama kali melirik peluang bisnis ini, diakuinya memang sangat menjanjikan. Terlebih melihat potensi Indonesia yang kaya akan berbagai komoditi mineral kini mulai ditekan kewajiban mengolah dan memurnikan mineral di dalam negeri sehingga mampu bersaing di pasar internasional juga menambah pendapatan negara. Namun Presiden Direktur Indosmelt ini menekankan jika industri yang kini serius digelutinya juga bentuk kecintaannya pada bumi pertiwi. Sesuai amanah Undang-undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009, ia terpanggil untuk memberikan kontribusi lebih bagi Negara dengan membentuk mental kuat. Pria kelahiran Makassar, 1 April 1963 menilai jika industri hilirisasi adalah industri strategis yang lebih besar ketimbang hanya mengandalkan ekspor tanah air yang nyatanya sudah puluhan tahun dilakukan Indonesia. Ia meyakini, meski teknologi dalam negeri belum memadahi dan harus mendatangkan dari luar, tetapi SDM dalam negeri sudah sangat siap menghadapi industri hilirisasi minerba.Perusahaan dengan status izin prinsip penanaman modal ini didesain tahun 2012 hingga tahun 2013, dengan rencana  pembangunan pada tahun 2014 hingga 2016, dan tes pra operasional sampai operasi pada  tahun 2016 sampai 2017. Indosmelt juga menggandeng perusahaan kontrak karya (KK) yaitu PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara sebagai supplier konsentrat. Ketiganya menandatangani nota kesepahaman bersama Indovasi Mineral Indonesia (Indovasi). MoU dilakukan untuk mendukung rencana ketiga perusahaan, membangun fasilitas pabrik peleburan konsentrat. PT Indosmelt akan membangun pabrik smelter bijih tembaga berkapasitas 350 ribu ton konsentrat per tahun di Maros, Sulawesi Selatan. Selanjutnya, perseroan siap mengucurkan dana sebesar US$ 700 juta (Rp 6,58 triliun). Sang bos yakin, PT Indosmelt nantinya akan mampu menjadi industri strategis yang sangat menjanjikan ke depannya.Meskipun baru menjajaki industri smelter, Natsir Mansyur bukanlah pendatang baru di dunia bisnis. Salah satu petinggi KADIN ini pernah melakoni trading di bidang komoditas, Ia juga sempat menjajal di perusahaan pelayaran dengan bendera PT Zadasa International. Bahkan hingga saat ini dirinya masih menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti). Selain itu, Natsir juga sempat menggeluti dunia politik di Partai Golkar selama 25 tahun dan pernah menjadi anggota DPR periode 2004 – 2009. Ia concern di Komisi XI membidangi APBN sebelum akhirnya menyatakan mundur dan konsentrasi di bisnis. Kepada Majalah BORNEO, ia bicara banyak hal terkait dengan bisnisnya ini. Berikut petikannya:Sejak kapan Anda yakin untuk terjun ke industri smelter?Saya sudah menyiapkan ini tiga tahun lalu, dan Indosmelt juga telah mulai didirikan tiga tahun lalu sejak Undang – undang Nomor 4 disahkan oleh DPR, kita sudah mulai membuat perencanaan mengelola tembaga dan emas. Memang perjuangannya lama, tapi kita berharap walau nggak punya tambang bahan bakunya kerja sama dengan perusahaan kontrak karya seperti Freeport dan Newmont untuk bahan bakunya.Apa motivasi Anda memilih industri hilirisasi mi­neral?Jujur, saya miris melihat industri hilir Indonesia yang tidak sehat, dimana hampir 90 persen bahan baku mineralnya diekspor, akhirnya kita tergantung kepada negara-negara besar lain. Tentu ini adalah problem yang sangat krusial. Padahal kita punya semuanya, bahan baku dari sumber daya mineral dan pertambangan semua tersedia. Tapi nyatanya sampai puluhan tahun hanya ekspor tanah air yang kita lakukan. Nah, kalau masih morat- marit bergini pertumbuhan ekonominya masih dari konsumsi saja!Ini bukan Natsir mansyur yang bicara, tapi permintaan bangsa yang harus di-folllow up. Karena kalau tidak, Indonesia akan jadi bangsa tempe, cuma punya bahan baku tapi nggak punya industri untuk mengolah, diekspor melulu kalau mau yang sudah jadi impor terus. Kita akan jadi bangsa yang selalu tertinggal, padahal SDM nya sudah cukup meski ada teknologi yang kita beli dari luar.Berapa investasi yang dikucurkan untuk bisnis ini?Investasi US$ 1-1,5 miliar dari lembaga bank dunia setara Rp 16 triliun. Tentu saja dibutuhkan fasilitas insentif dari pemerintah, seperti fasilitas pajak atau insentif apa pun.Mengapa Indosmelt memilih perusahaan KK seperti Freeport dan Newmont sebagai supplier bahan baku?Kenapa Freeport dan Newmont, karena mereka yang sementara siap kalau perushaan nasional kita belum siap. Kami selama ini sudah tiga tahun lebih berhubungan dengan Freeport dan mereka tidak pernah menolak kami menggunakan bahan baku Freeport. Namun karena melihat waktunya sudah dekat dengan pemberlakuan UU Minerba, kita punya semangat lain dalam industri pemurnian dan pengolahan tembaga dan emas ini. Kita lihat industri pemurnian tembaga dan emas ini downstream-nya kan banyak, sehingga industri hilir sangat dibutuhkan sekali bahan bakunya terutama untuk awal seperti industri eloktronik. Sebenarnya Indonesia sudah mempunyai smelter di Gresik yaitu PT Smelting, tapi perusahaan yang PMA (penanaman modal asing), sahamnya dimiliki a­sing namun menurut saya masih dibutuhkan industri semacam ini di Indonesia.Bagaimana kesiapan Indosmelt dalam penggunaan teknologi dan infrastruktur, apalagi yang digandeng adalah perusahaan KK terkemuka?Sebenarnya ini sebuah peluang bagi perusahaan nasional untuk mengembangkannya, jadi tidak perlu lagi perusahaan asing, pengusaha nasional pun bisa mengerjakannya. PT Indosmelt ambil lima komoditas untuk industri pionir di Indonesia, dengan multiefek ke bawah yang dapat menunjang industri hilir. Kelima komoditas tersebut yaitu tembaga, alumunium, nikel, besi, dan emas. Dan kami pakai Auto-Tech dari Australia, konsultan pertambangan terbaik di dunia. Konsultan ini khusus untuk pemurnian tembaga dan emas. Soal teknologi memang bisa kita merangkul dari mana pun. Yang penting, Indonesia punya resoursces besar, dan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kalau kita tidak bisa manfaatkan dengan  baik, Tuhan bisa murka. Memang perjuangan panjang juga untuk membangun, pada tahap pertama kita mencari teknologi dulu sampailah kita ke Australia dan terakhir kita dapat teknologi dari Oto Tech ini perusahaan dari Swedia, dari situ kita beranjak lagi.Bisa dijelaskan sejauh mana progress dari Indosmelt saat ini? Tahun ini kita tahap ada penyesuaian dari konsentrat itu, studi sudah selesai, untuk sekarang pra visibility study bisa selesai 2-3 bulan ini. Kita mulai 2014 ground breaking, 2017 mulai produksi. Pemenuhan kebutuhan dalam negeri sementara perhitungan kasar kita kira-kira 50 persen, tapi kita tidak semena-mena menjualnya, kan itu diperdagangkan dengan internasional price atau LME (London Metal Exchange). Sedangkan bahan baku sistemnya kita Business to Business pada Freeport dan Newmont.Berapa sebenarnya kebutuhan dalam negeri atas mineral olahan? Dan bagaimana dengan produksi dari Indosmelt?Kalau dilihat kebutuhan dalam negeri cukup besar untuk menghidupi industri hilir. Sebenarnya struktur industri kita tidak sehat karena bahan baku hilirnya rata-rata banyak impor sehingga bagusnya kalau ada kebijakan UU Minerba bisa dikelola dalam negeri supaya hilirisasi jalan dan kebutuhan hilir kita bisa terpenuhi, ini secara makro. Kebutuhan emas dalam negeri cukup tinggi sekitar 75 ton pertahun, perhiasan emas fisik batangan, dan cadangan logam mulia Bank Indonesia sangat kecil kita hanya punya cadangan di luar negri untuk emas kurang lebih 97 ton. Ini sangat ironis-lah, Negara ini punya tambang bahan galian emas tapi tidak dikelola dengan baik, Amerika sendiri cadangan devisanya 3500 ton. Bisa disimpulkan bahwa tiap negara punya cadangan devisa besar sekali, cuma Indonesia yang sangat kecil cadangan devisanya, padahal kita kan penghasil bahan baku terbesar yaitu untuk komoditi emas. Jadi nanti untuk Freeport dan Newmont, kalau kebutuhan kita 500 ribu ton konsentrat maka yang kita butuhkan adalah kira-kira 350 ribu ton dari Freeport dan 150 ribu dari Newmont. Secara teknis Indosmelt produksinya katoda jadi kira-kira 120 ribu ton setahun dan kita akan memproduksi emas, katoda kan ada lagi produk buangannya ada sulfat, adalagi slam untuk bahan baku semen kebetulan Indosmelt dekat dengan produksinya.Apa Anda memiliki tujuan lain dalam mendirikan Indosmelt?Ya, tentunya industri ini saya harapkan mampu merangsang pertumbuhan industr hilir di mana dari sebagian produksi bisa kita ekspor, dan sisanya untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri juga kita layani. Ke depan saya ingin Indonesia jadi Negara penghasil emas dan katoda, bukan karena bahan bakunya gede, tapi orang kita tidak bisa mengelola. Kita mau ke depan pertumbuhan industri merata tidak hanya di Jawa saja, kita akan membuat pemerataan ekonomi. Masalahnya kalau pembangunan industri ini di Jawa berarti tidak menciptakan pertumbuhan di luar Jawa, tenaga kerja yang diserap di pabrik 500-600 orang.Apa saja kendala dalam pembangunan Indosmelt? Sebenarnya tidak ada susahnya, smelter mineral apapun teknologinya sudah ada semua tinggal antara energi satu dan lainnya mana yang bisa efisien, kalau misalnya sudah efisien kita beli teknologinya. Cuma karena waktunya mendesak 2014 perlu kebijakan pemerintah membangunnya, memang perintah UU sejak 2009 tapi kan jalannya lambat. Membangun smelter tidak ada masalah, kita di Kadin juga fokus dengan perindustrian. Dengan industri pionir ini di hilir cukup lima komoditi-lah tembaga, aluminium, besi, emas, nikel tapi skala besar, itu dapat mendukung industri hilirnya. Dan kita dari Kadin juga sudah usulkan ke pemerintah dalam RUU Perindustrian supaya pemerintah fokus lima komoditi untuk minerba. Memang sudah bukan cerita lagi kalau bangun bisnis pertambangan nggak ada cerita nggak bangun infrastruktur, biasanya dibangun pengusaha sendiri. Karena kalau pemerintah yang bangun agak lambat, mulai listrik macam-macam juga misal ada beberapa daerah yang surplus listrik seperti Jatim, tapi di Sulsel belum tentu, jadi untuk daerah lain yang tidak surplus listrik, perhitungan harga jual PLN juga berbeda.Apakah peran pemerintah sejauh ini terhadap Indosmelt?Peran pemerintah sangat besar sekali karena mereka memfasilitasi Indosmelt dengan kedua KK tersebut. Kementerian ESDM juga punya peran karena kalau KK tidak bisa bangun smelter ya sudah memang kalau bicara margin kecil, tapi kita lihat untuk jangka panjangnya. Adakah pesan atau pengharapan yang ingin Anda sampaikan kepada regulator?Kami sebagai rakyat Indonesia sekaligus pelaku usaha meminta agar perangkat-perangkat hukum seperti UU dan Permen yang sudah ada dijalankan konsisten. Kita juga berharap ke depannya jangan dirubah-rubah lagi, industri pionir ini kan menggunakan investasi besar, menggunakan high technology dan rekayasa engineering-nya juga tinggi jadi kita harus hati-hati. Pemerintah harus mendukung untuk mendorong percepatan pemberlakuan UU itu, serta berani berkomitmen untuk hilirisasi minerba ini. Indonesia kalau nggak dipaksa nggak bisa, itu makanya pemerintah harus berusaha konsisten jalankan UU Minerba. Kalau UU Minerba ini nggak konsisten, dirubah-rubah hancurlah Negara ini. Kita nggak punya industri strategis yang lebih besar. Apa yang bisa diandalkan dari ekspor tanah air melulu sampai pu­luhan tahun?
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1035261
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT