W. Judiana Ardiwinata : Jalan PanjangMengkloning Medco
ENTERPRENEUR W. Judiana Ardiwinata : Jalan PanjangMengkloning Medco
___________________________________________________________________________Desember 2005. W. Judiana Ardiwinata memasuki usia pensiun. Sebagai orang nomor satu di perusahaan migas multinasional PT. Caltex Facific Indonesia (CFI), Judiana didapuk menjadi komisaris perusahaan yang memproduksi minyak terbesar di Indonesia pada Januari 2006. Di posisi ini – baginya bukan tantangan yang menantang. Itu sebabnya pada Mei 2006 ia resmi mengundurkan diri menjadi komisaris di perusahaan itu.Baginya hidup di comport zone bagai “Koong”, meminjam judul novel penulis Iwan Simatupang. Di mana analogi sang burung yang hidup di sangkar emas. Ia terkungkung dalam eksistensi. Ada “batas-batas” yang membatasi ruang gerak. Padahal energi yang dimiliki masih mampu membuka wajah baru. Itulah eksistensi. Ia ada karena keberadaannya memang ada. Ia tidak terikat dengan”sekat-sekat” yang membuatnya menjadi tidak ada. Judiana mahfum atas eksistensi itu. Ia memilih keluar dari sangkar emasnya. Bersama temannya (Sammy Hamzah), ia membesut perusahaan eksplorasi dan eksploitasi di bidang Coal Bed Methane (CBM), PT. Ephindo, pada 2008. Uang pensiun dari CFI ia gelontorkan untuk sebuah eksistensi.Boleh dibilang Ephindo merupakan pioneer dalam eksplorasi CBM. Perusahaan ini memiliki block CBM di Kalimantan, yaitu: Sangata I bersama dengan Pertamina, block Kutai 1 dan 2 bersama dengan sebuah perusahaan batubara dan block Sekayu 1 bersama dengan Medco. “Sekarang Ephindo sudah enam tahun, tapi belum dikomersialkan. Padahal di block Sangata sudah dibor 8 sumur,” ujar Judiana serius kepada BORNEO, di ruang kerjanya, September lalu. Sedikitnya US$ 1 juta investasi yang ditanamkan untuk pengeboran satu sumur. Saat perencanaan awal, anggaran pengeboran satu sumur hanya sebesar US$ 500 ribu. Pembengkakan anggaran ini disebabkan karena belum ada rig khusus untuk mengebor sumur CBM, sehingga biaya pengeboran menjadi membengkak. Menurut Judianan, memang sudah ada gas sales agreement antara Ephindo dengan PLN. Persoalannya adalah volume gas yang dihasilkan Ephindo belum cukup mensuplai kebutuhan PLN. Untuk bisa memenuhi kebutuhan PLN, pihak Ephindo harus mengebor banyak sumur. Kondisi itu yang menyebabkan Ephindo belum mampu mensuplai gas ke PLN. Dengan mahalnya ongkos pengeboran, mengakibatkan tidak bisa memberikan keekonomian yang baik. “Saat ini gas yang dihasilkan Ephindo dari block CBM Sangata digunakan untuk kebutuhan sendiri,” lanjutnya.Memang agak berbeda karakteristik produksi CBM dengan produksi gas. Biasanya produksi CBM, kata Judianan, lebih cepat menurun dibandingkan produksi gas. Dan tekanan gas CBM lebih rendah. Jadi, ngebor sumur di satu titik, belum tentu gasnya mengalir. Itu sebabnya mengapa diperlukan pengeboran sumur CBM lebih banyak, sehingga keekonomiannya perlu ditinjau ulang.Ketika pertama kali pemerintah menawarkan block-block CBM, belum ada aturan kontrak mengenai CBM. Lalu pemerintah menerapkan term of condition sebesar 45% bagian kontraktor (investor) dan 55% bagian pemerintah. Belakangan ini ada juga split yang diterapkan 40% : 60%. “Dulu dalam pemikiran awal, split untuk kontraktor lebih besar dari pemerintah misalnya 55% : 45%,” tambahnya. Namun demikian, tidak mesti meningkatkan split bagian kontraktor lebih besar dibandingkan pemerintah. Ada cara lain untuk meningkatkan daya tarik investor berinvestasi di CBM. Umpamanya penerapan tax holiday dan insentif lainnya pada saat kegiatan eksplorasi. Baru setelah project CBM berjalan, pemerintah bisa mengurangi bentuk-bentuk insentif.Judiana menambahkan, diperlukan investasi tambahan sekitar US$ 20 juta pada project CBM block Sangata 1. Sejauh ini pihak manajemen sudah melakukan usaha farm out sebesar 25%. Bila progress ini berjalan, diharapkan pada 2017 Ephindo sudah dapat memenuhi supply gas ke PLN. Kebetulan di dekat lokasi Sangata 1, ada pembangkit listrik yang menggunakan diesel milik PLN. Paling tidak, supply gas dari Sangata 1 bisa menggantikan sebagian bahan bakar dari pembangkit diesel tersebut. Rupanya naluri bisnis Judiana tak berhenti sampai di Ephindo. Ia menilai Ephindo telah establish. Ia kini hanya sebagai chairman di sana. Belakangan ini ia melirik bisnis oil and gas yang selama ini telah membesarkan namanya. Bila masa lalu ia menjadi ekor pada ikan besar (president director CFI-Red), kini ia ingin menjadi kepala, walau di ikan kecil. “Saya merasa masih punya potensi untuk mengembangkan oil and gas yang konvensional,” tambahnya. Bersama temannya ia mendirikan PT. Central Sumatra Energy (CSE) dan PT. Texcal Indonesia. Texcal sendiri singkatan dari Team of ex Caltex serta mendirikan PT. Black Platinum Energy.Saat ini CSE memiliki dua block PSC, yaitu block Mahato dan South Lirik yang berada di Sumatra Tengah. Kedua block tersebut dulu bagian dari Chevron, tapi belakangan ini sudah relinquishment. “Kebetulan di Centra Sumatra Energy banyak orang-orang geologies ex Chevron. Mereka tahu banyak di daerah sana. Kami mulai melakukan kegiatan eksplorasi dari daerah-daerah yang sudah diketahui,” lanjut Director CSE seraya menambahkan pihak CSE belakangan ini melakukan joint study dengan Dirjen Migas di Block Mahato. Sedangkan block South Lirik sedangkan melakukan survey G and G.Sementara PT. Black Platinum Energy (BPE) memiliki beberapa block migas. Sebut saja block Sokang dan block North Sokang. Block North Sokang, misalnya, telah melakukan pengeboran dua sumur pada 2012. Hasilnya, ditemukan gas di sana. Lokasi block ini berada di East Natuna Sea.Menurut Judiana, investasi yang telah dikucurkan cukup besar. Di block North Sokang, umpamanya, telah menelan biaya mencapai US$ 60 juta. Sedangkan di block South Lirik telah menghabiskan biaya sekitar US$ 7 juta. “Pada awal kegiatan eksplorasi, kami menggunakan dana sendiri,” tambahnya serius.Ia mengakui, masih perlu investor asing. Pasalnya, bisnis di oil and gas beresiko tinggi, teknologi tinggi dan padat modal. Biasanya investor asing tidak mau langsung mengeluarkan dana investasi. Dia lihat dulu kemampuan mitranya dalam pembiayaan proyek yang ditanganinya. “Pengalaman setelah saya jadi pengusaha, orang itu mau meminjamkan uang kalau kita punya uang. Dari US$ 7 juta dollar, sekitar 30% uang sendiri,” ujarnya.Saat ini daya tarik investasi Indonesia, kata Judiana, masih cukup bagus. Masih tertolong dengan keadaan Timur Tengah yang bergejolak. Namun demikian akan lebih menarik lagi kalau peraturan-peraturan yang ada mengarah ke investor friendly. Pemerintah selalu mengatakan mengenjot aktivitas eksplorasi, meningkatkan produksi, tapi dipihak lain, peraturan-peraturan yang keluar itu tidak investor friendly.Pembayaran Pajak Bumi Bangunan (PBB) yang diterapkan pada oil and gas company, baik yang masih eksplorasi maupun eksploitasi dinilai cukup memberatkan. Ambil contoh pembayaran PBB di offshore dihitung berdasarkan titik-titik kordinat dalam block tersebut. Padahal, area offshore yang digunakan hanya beberapa m2, seluas platform. Seharusnya pembayaran PBB dihutung berdasarkan titik-titik platform yang ada di offshore.Beberapa tahun terakhir ini, kelihatannya pemerintah tidak seagresif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Potensi migas di Indonesia bagian barat sudah ditemukan, tinggal di Indonesia bagian timur yang masih mempunyai prospek. “Sayangnya belakangan ini, pengeboran di laut dalam banyak dry hole. Mudah-mudahan dry hole dulu yang drill belakangan ini. Pengeboran tahun-tahun berikutnya ditemukan oil and gas. Kalau kita ngebor dry hole, kita dapat data tambahan untuk mengetahui apa yang terjadi di sana,” urainya serius.Judiana menambahkan, kegiatan eksplorasi kini jauh lebih sulit dibandingkan pada era tahun 70-an. Bila pada tahun itu, lamanya kegiatan eksplorasi sampai menuju eksploitasi hanya menelan waktu empat tahun. Belakangan ini kegiatan eksplorasi sampai eksploitasi bisa menelan waktu 10-an tahun. Oleh karena itu perlu diberikan kemudahan-kemudahan kepada investor untuk melakukan kiprahnya.“Saya merasa terpanggil mengembangkan perusahaan migas nasional. Saya ingin melihat ada Medco kedua, ketiga dan keempat. Saya masih jauh dari perusahaan itu. Tapi kalau ada orang-orang nasional yang punya potensi ikut mengembangkan perusahaan nasional, kenapa tidak didukung supaya lebih banyak pemain-pemain migas nasional lahir,” lanjutnya mengunci percakapan.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1053220
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT