Koba Tin: Akankah Tetap Bertahta Di Bangka?
HUKUM Koba Tin: Akankah Tetap Bertahta Di Bangka?
___________________________________________________________________________Sebelumnya, perubahan dan per­panjangan pertama KK Koba Tin sendiri disetujui pada 6 September 2000, untuk masa berlaku 1 April 2003 hingga 31 Maret 2013. Kini, perusahaan pemegang KK ini tengah menanti nasib baru, diperpanjang atau justru sebaliknya, stop di tengah jalan. Yang terang, posisi Koba Tin yang kini tengah “digantung” ini malah menimbulkan banyak dugaan ada­nya konspirasi yang mengarah pa­da kepentingan sejumlah ka­lang­an elit politik di legislatif juga eksekutif. Bagaimana tidak, pengamat pertambangan Marwan Batubara memaparkan berbagai penyelewengan oleh Koba Tin yang nyata menimbulkan kerugian bagi negara.Koba Tin merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dengan komposisi kepemilikan saham 75% milik Kajuara (100% sahamnya dimiliki Iluka Resources, Australia) dan 25% milik PT Timah. Kemudian pada 2003, 100% saham Kajuara diakuisisi oleh Bemban Co. Ltd. (100% milik Malaysia Smelting Corporation atau MSC, Malaysia). Sejak Agustus 2012, 60% saham MSC di Bemban telah diakuisisi oleh PT Mega Multi Makmur (100% saham milik Optima Syner­gy Resources Ltd.). Hal ini terbukti dengan ditemukannya soft copy pro­posal pengalihan saham Strategic Alliance Agreement dengan Optima Synergy Resorces Ltd (OSRL).Atas dasar itulah, Marwan, yang juga Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), me­nengarai telah terjadi berbagai pelanggaran yang dilakukan Koba Tin selama ini. Di anta­ranya melakukan tran­s­fer pricing berupa pen­jualan seluruh produk kepada MSC. Logam timah dijual di bawah harga rata-rata yang dijual PT Timah.Koba Tin juga me­nye­tujui untuk mem­bayar biaya manajemen, administrasi, pemasar­an dan biaya bunga bank untuk pembayaran di muka oleh MSC. Dalam Audited Financial Statement 2008-2011 diejalskan, pembayaran ini Ma­nagement and marketing fee, berkisar antara US$ 360,000 hingga US$ 390,000 setiap tahun; kerugian Forward Sales Contract dalam 5 tahun terakhir berkisar antara US$ 743 ribu hingga US$ 2,082 Juta; serta pembebanan biaya bunga interest expense on advances ke MSC dan pembayaran bunga pinjaman berkisar US$ 980 ribu hingga US$ 4,8 juta.Tak hanya itu, Koba Tin juga dinilai menyembunyikan informasi dan ke­bijakan manajemen kepada pi­hak Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Direksi dan Komisaris Koba Tin yang mewakili PT Timah. Perusahaan ini juga dianggap telah merubah komposisi pemegang saham Bemban Corporation Ltd sebagai SPV pemilik Kajuara dilakukan tanpa sepengetahuan PT Timah. Aksi korporasi MSC ini tidak sesuai dengan etika lazim di dunia bisnis, di mana perpindahan tangan sa­ham seyogyanya harus mendapat persetujuan pemegang saham mi­noritas. “Merubah kepemilikan sa­ham pengendali Koba Tin (pe­megang saham tidak langsung) yang diduga dilaksanakan tanpa mendapat persetujuan tertulis dari Menteri,” kata Marwan.Sesuai SK Menteri ESDM No. 472.K/50/DJB/2012 tanggal 21 Maret 2012, luas wilayah Koba Tin adalah 41.344,26 hektar dengan Kode Wilayah 10PK0182. Lokasi WK terletak di Kabupaten Bangka Tengah dan Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Bangka Belitung. Se­suai laporan manajemen pa­da rapat Dewan Komisaris 27 Desember 2012, besarnya ca­dangan dan sumber daya pada WK masing-masing adalah 15.880 ton dan 15.760 ton. Sehingga total cadangan dan sumber daya WK adalah 31.644 ton.Namun, besarnya cadangan ini me­nye­babkan potensi kerugian negara. Salah satu kerugian negara terbukti dari Annual Report Koba Tin pada tahun 2002, di mana nilai penyertaan PT Timah di Koba Tin adalah Rp 65,54 miliar atau sekitar US$ 7,33 juta. Sedangkan pada Annual Report 2012, nilai tersebut tiba-tiba hilang tak bersisa.“Akibat penyelewengan dan rekaya­sa manajemen Koba Tin, pada 2012 PT Timah telah kehilangan seluruh nilai investasinya di Koba Tin,” kata Marwan. Dalam hal ini, lanjutnya. saham-saham yang dipegang oleh peserta Indonesia telah diperlakukan secara tidak meng­untungkan dibandingkan deng­an saham-saham yang dipegang oleh pihak MSC.Tak hanya merugikan negara, ada­nya KK Koba Tin ditengarai mengarah pada pemiskinan struktural di Bangka Belitung (Babel). Hal ini disampaikan pengamat ekonomi dan politik Ichsanuddin Noorsy. Beberapa poin yang menjadi bahan analisa terjadinya pemiskinan struktural masyarakat Babel, menurutnya, dari ketergantungan pada ekspor timah sebagai bahan mentah.Di sinilah tampak rapuhnya basis perekonomian Babel, timpang dan rancunya tata ruang. Bahkan mental terjajah masih terus berjalan sehingga para pelaku terpasung dalam politik belah bambu. “Selama model pembangunan menyandarkan diri pada sumber daya tanpa pengolahan, dan hasil SDA tidak diikuti dengan perbaikan kualitas kehidupan (kecerdasan, kesehatan, dan pendapatan serta lingkungan), maka itulah yang menunjukkan proses pemiskinan struktural se­dang dijalankan,” ujarnya.Potensi pelanggaran konstitusi yang dilakukan Koba Tin semakin terendus. Hingga akhir April lalu belum ada klarifikasi dan konfirmasi dari pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) terkait pengalihan saham MSC Grup di PT Koba Tin. Hal inilah yang dikeluhkan PT Timah (Persero) Tbk. Pasalnya, menurut Corporate Secretary PT Timah Agung S Nugroho, setiap kali kebijakan perusahaan terutama berkaitan dengan aksi korporasi utamanya seperti perubahan saham harus ada pembicaraan dengan seluruh pemegang saham. Nyatanya, tersiar kabar bahwa KK Koba Tin diperpanjang. Jika benar, inilah soalan baru yang sarat kontroversi. Sejumlah fakta menunjukkan perusahaan KK Koba Tin telah melakukan banyak penyelewengan yang mengarah pada kerugian negara. Namun, pemerintah malah masih memiliki hasrat memberikan perpanjangan kontrak untuk jangka waktu 10 tahun ke depan hingga 2023.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1037647
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT