Debu & Gangguan Pernapasan
KESEHATAN LINGKUNGAN Debu & Gangguan Pernapasan
___________________________________________________________________________Tingkat risiko kegiatan kerja pada industri boleh dikatakan sangat tinggi. Faktor risiko itu bisa dipicu oleh berbagai hal mulai dari yang terlihat sepele hingga kompleks. Meski memiliki faktor risiko tinggi bukan berarti pula bahwa bekerja di tambang aadalah bekerja menghadapi bahaya. Karena bagaimanapun juga bahaya itu akan muncul apabila setiap unsur yang ada di dalam lingkungan kerja tambang tersebut tidak para tidak menaati dan melaksanakan standar keselamatan kesehatan kerja yang sudah ditentukan. Karenanya sangat penting untuk menge­tahui faktor bahaya apa saja yang bisa terjadi di lingkungan pertambangan sekaligus tahu bagimana cara menanggulangi bahaya-ba­haya kegiatan penambangan tersebut. Sa­lah satu faktor yang sering menganggu kesehatan para pekerja adalah bahaya yang diakibatkan oleh debu tambang. Debu tambang merupakan kategori pertama yang mengakibatkan pencemaran ling­kungan kerja. Debu tambang juga bisa menjadi penyebab timbulnya penyakit alat pernapasan ataupun keracunan pada organ tubuh, kerusakan peralatan atau mesin, kecelakaan tambang hingga ledakan debu batubara yang mengakibatkan kebakaran tambang. Dalam aliran udara tambang, debu dengan ukuran kurang dari 10 mikron sangatlah berbahaya. Sebab debu dengan ukuran halus ini akan tetap terapung dalam aliran udara. Sedangkan debu dengan ukuran 0,5 mikron – 5 mikron dapat terhisap oleh pernapasan dan masuk ke paru-paru. Dilihat dari akibat yang akan timbul, debu dapat diklasifikasikan menjadi beberapa. Dimulai dari pulmonary dust yaitu debu yang dapat mengakibatkan penyakit pada saluran pernapasan. Kerusakan paru-paru dapat terjadi apabila debu yang berukuran ¼ m sampai 5 m ini terisap dalam jumlah berlebih dan terus menerus. Kemudian toxic dust yaitu debu yang dapat mengakibatkan keracunan atau kerusakan pada kulit. Ada juga radio active dust Yaitu debu berbahaya karena racun dan pancaran radiasi bahan radio aktifnya dapat merusak jaringan tubuh kulit, paru-paru, saluran pernapasan, pencernaan dan tulang jika terkena radiasi. Terakhir explosive dust yaitu debu yang dapat menyebabkan terjadinya ledakan. Pengaruh debu terhadap kesehatan manusia tergantung dari beberapa faktor, yaitu komposisi kimiawi maupun mine­raloginya, konsentrasi, ukuran partikel, waktu dan dan daya tahan seseorang. Khusus untuk ukuran semakin kecil ukuran debu maka akan semakin berbahaya karena luas permukaannya dan aktivitas kimianya bertambah. Sedangkan dari sisi waktu atau lamanya seseorang yang bekerja dengan lingkungan berdebu bisa terkena gangguan, biasanya memerlukan waktu 5 sampai 20 tahun baru terlihat gejalanya.Adapun alah satu organ pernapasan yang bisa “rusak” akibat debu pertambangan itu adalah paru-paru. Penyakit paru yang disebabkan debu industri termasuk pertambangan memiliki gejala yang sama dengan penyakit paru lain yang notabene tidak disebabkan oleh debu di lingkungan pekerjaan. Penyakit paru kerja merupakan kerusakan atau penyakit paru yang diakibatkan uap, debu, atau gas berbahaya yang terhirup saat berada di tempat kerja. Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi terjadinya gangguan paru, yaitu: Ukuran debu atau partikel, jumlah dan lama pajanan, kelembapan udara, toksisitas dan pola respirasi.Adapun beberapa jenis penyakit paru itu sendiri di antaranya adalah pneumoconiosis. Penyakit ini di­akibatkan penumpukan debu ba­tu­bara di paru sehingga menyebabkan munculnya reaksi jaringan terhadap debu tersebut. Seseorang bisa terkena penyakit ini bila terpapar cukup lama, lebih dari 10 tahun.Silikosis. Gangguan ini terjadi karena inhalasi dan retensi debu yang mengandung kristalin silikon dioksida atau silika bebas (S1S2). Penyakit ini bisa terjadi pada berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan silika, seperti: pembuat keramik dan batubara, pekerja tambang logam dan batubara penuangan besi dan baja dan beberpa industri lain. Asbestosis. Penyakit ini timbul akibat ter­hirupnya debu asbes sehingga me­nyebabkan penumokoniosis yang ditandai oleh fibrosis paru. Paparan debu asbes ini bisa terjadi di daerah tambang dan industri serta daerah disekitarnya yang sudah terpolusi. Pekerja di tambang, transportasi, penggilingan, pedagang, pekerja kapal, dan pekerja penghancur asbes adalah mereka yang rawan terkena penyakit ini. Bronkitis Industri. Berbagai debu industri seperti debu yang berasal dari pembakaran arang batu, semen, keramik, besi, penghancuran logam dan batu, asbes dan silika dengan ukuran 3-10 mikron akan ditimbun di paru hingga menimbulkan penyakit ini. Kanker Paru. Kanker paru bisa dipicu oleh zat yang bersifat karsinogen seperti uranium, asbes, gas mustard, nikel, khrom, arsen, tar batu bara, dan kalsium klorida. Pekerja yang sering terkontaminasi zat-zat tersebut bisa menderita kanker paru setelah terpapar lama, yaitu antara 15 sampai 25 tahun. Pekerja yang rawan terkena penyekit ini adalah mereka yang bekerja di tambang, pabrik, tempat penyulingan dan industri kimia.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1036046
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT