Meningkatkan Nilai dengan Teknologi Dalam Negeri
KESEHATAN LINGKUNGAN Meningkatkan Nilai dengan Teknologi Dalam Negeri
___________________________________________________________________________Apa arti smelter sebenarnya? Karena selama ini “smelter” yang didengungkan oleh pejabat di Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) selalu berkonotasi pada sebuah investasi besar dan pembu­atan infrastruktur mahal. Sebagaimana diketahui dibutuhkan minimal US$ 500 juta atau US$ 1 miliar untuk pemba­ngunan smelter.Contoh pengolahan bahan tambang bijih besi, PT. Krakatau Steel, investasinya le­bih dari US$ 2 miliar dan power plant 400 megawatt. Contoh lain untuk pengolahan bijih PT. Antam dan PT. Inco (sekarang PT. Vale) dengan investasi lebih dari US$ 2 miliar dollar AS dengan Power Plant lebih dari 300 megawatt. Ada juga pengolahan bauksit dilakukan PT. Inalum di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara yang juga menyiapkan investasi le­bih dari US$ 2 miliar. Khusus untuk Proses Pasir Besi malah “tidak ada” contoh / kiblat yang bisa dijadikan pedoman karena belum ada yang bisa memproses menjadi sponge iron maupun pig iron, termasuk PT Krakatau Steel. Sebenarnya istilah “smelter” hanya tepat untuk proses pengolahan bijih besi menjadi pig iron dengan menggunakan teknologi blast furnance, karena di dalam Blast Furnance tersebut, Bijih Besi benar-benar “smelt / leleh” sehingga bisa disebut “smelter”. Sedangkan proses yang dilakukan PT Krakatau Steel tidak bisa disebut dengan smelter karena PT Krakatau Steel menggunakan pellet iron yang di import dan tidak menggunakan blast furnance.Contoh lain yang sangat fatal adalah para penambang Bauksit yang harus membuat “smelter” padahal bauksit “tidak harus” dibuat menjadi “alumunium” seperti PT Asahan tetapi harus diproses dahulu dengan “proses bayer” menjadi Alumina Oksida, baru dilakukan “kalsinasi” (Penghilangan unsur H2O yang terikat secara kimia) dengan Teknologi Tunnel Kiln. Setelah menjadi Alumina Oksida “tidak harus” dilebur menjadi Aluminium tetapi bisa menjadi Produk-produk lain yang mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi daripada alumunium seperti refractory, untuk bahan pembantu pabrik-pabrik keramik, ceramic yarn guide, alumina ball, alumina lining, high alumina cement, ceramic fiber, dan sejenisnya.Teknologi Skala UKMCadangan Pasir Besi di Indonesia menurut banyak sumber terbentang dari Pantai Selatan Propinsi Bengkulu, Propinsi Lampung, sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, dan Propinsi Papua lebih dari 2 miliar ton. Selama ini seluruh Pasir Besi tersebut hanya diekspor dalam bentuk konsentrat atau mentah saja dan “hanya” dihargai dihargai sekitar US$ 50/ton. Di saat yang sama kita malah mengimpor besi scrap tidak kurang dari 10 juta ton per tahun dengan harga sekitar 500 dollar AS / ton. Padahal pasir besi dapat diproses menjadi “sponge iron” dengan kadar Fe minimal 90 persen dengan “teknologi dalam negeri” dan dapat dikerjakan dengan modal dan skala UKM sehingga sesuai dengan Undang-undang Minerba No. 4 tahun 2009 dan Permen no. 7 tahun 2012. Bila seluruh cadangan Pasir Besi sebanyak 2 miliar ton diproses menjadi sponge iron berapa banyak kita mendapat keuntungan. Ilustrasinya dari 1 miliar ton dijual dengan harga US$ 500/ton maka akan diperoleh uang sebesar US$ 500 miliar (sekitar Rp 4.500 triliun).Demikian juga dengan bijih nikel kebanyakan masih diekspor dalam bentuk mentah dan hanya dihargai sekitar US$ 30 / ton termasuk PT Aneka Tambang yang masih ekspor mentah sebanyak 2,5 juta ton dalam triwulan pertama tahun 2012.Bijih Nikel juga dapat diproses menjadi Sponge Iron Konten Nikel atau Ferro Nikel dengan kadar Fe sekitar 85 persen, kadar Nikel 3 persen hingga 7 persen dan terdapat Crom sekitar 2 persen dengan Teknologi Dalam Negeri dan dapat dikerjakan dengan modal skala UKM / Koperasi. Sebagai ilustrasi dengan asumsi kadar Fe 35 persen dan kadar Nikel 1 persen maka akan didapat Nikel Matt sebanyak 1 persen x 2 miliar ton = 20.000.000 ton, dengan asumsi harga Nikel Matt di London Metal Exchange sebesar US$ 20.000/ton maka akan didapat uang sebanyak US$ 400 miliar, dan didapat dari Ferro/Besi sebanyak 600 juta ton dengan harga US$ 600/ton akan didapat US$ 360 miliar.Untuk permasalahan Petroleum Coke, PT.Pertamina unit pengolahan minyak mentah di Dumai, Provinsi Riau menghasilkan limbah produk akhir minyak berupa “green coke / petroleum coke” yang mengandung unsur carbon sekitar 85 persen. Sebanyak 35.000 metrik ton limbah green coke , PT.Pertamina setiap bulan dijual dalam keadaan raw material kepada tiga Industri besar Jepang seharga US$ 70/metrik ton. PT.Pertamina pada tahun 1980-an pernah mengolah “petroleum coke” menjadi “calsined petroleum coke” dengan “teknologi rotary kiln” dengan bahan bakar “argon dan nitrogen” tetapi entah mengapa produksi tersebut tidak berlangsung lama, dan saat ini rotary kiln tersebut menjadi besi tua di Dumai, Propinsi Riau.Pada akhir tahun 2000 teknologi proses pengolahan Petroleum Coke dengan “Proses Pembakaran Reduksi” dan menggunakan “Tunnel Kiln” dengan menggunakan bahan bakar “Gas Alam” telah ditemukan. Hasil proses pembakaran dari petroleum coke menjadi calcined petroleum coke sudah dianalisa proksimat oleh Tekmir Bandung, PT.Sucofindo dan SGS Singapura, dengan hasil yang sangat memuaskan yaitu Fixed Carbon mencapai lebih dari 99 persen.Salah satu kendala tidak berkembangnya industri peleburan bijih besi di Indonesia adalah tidak adanya pabrik kokas foundry. Harga kokas import cukup mahal sekitar US$ 500/ton FoB China. Padahal Deposit bijih besi di Indonesia sangat banyak, lebih dari 5 miliar ton dan cadangan batubara lebih dari 45 miliar ton.Selama ini batubara dan bijih besi kita hanya diekspor dalam bentuk mentah tidak ada nilai tambah sama sekali-dengan harga berfariasi antara US$ 50 s-d 80/ton, padahal di China dan Jepang Batubara dari Indonesia diblending dan diprosesmen jadi kokas foundry dan diekspor ke Indonesia. Maka dengan teknologi dalam negeri yang kami miliki, batubara Indonesia dapat di-upgrade menjadi kokas foundry yang memiliki nilai tambah sangat tinggi. *) Penulis adalah Inovator dalam Bidang Pengolahan Mineral dan Batubara
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1073649
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT