Menyeimbangkan Faktor Nutrisi dan Psikologi
KESEHATAN LINGKUNGAN Menyeimbangkan Faktor Nutrisi dan Psikologi
___________________________________________________________________________Anjungan lepas pantai merupakan bagian sentral dari eksplorasi dan eksploitasi lepas pantai secara keseluruhan. Mengingat letaknya yang tergolong unkonvensional yakni berada di tengah laut maka infrastruktur dan fasilitas yang mendukung juga sangat lengkap dengan standar keselamatan tinggi. Standar keselamatan itu sendiri memiliki ruang lingkup luas dan mencakup banyak hal mulai dari yang umum hingga spesifik, termasuk jaminan kesehatan. Jaminan kesehatan bagi para pekerja menjadi item vital karena berimbas langsung pada kesinambungan kinerja sebuah anjungan. Karena itu setiap detail kebutuhan para pekerja harus terpenuhi secara maksimal termasuk tersedianya tenaga dokter yang cakap dan mumpuni. Sebagaimana diungkapkan oleh Medical Supervisor PT ConocoPhilips Wisnu Dharmawijaya, MD keberadaan dokter di anjungan lepas pantai menjadi sedemikian penting karena fungsinya yang bisa menggantikan fasilitas medis lengkap di kota. “Kita harus bisa menutup celah yang ada dengan keahlian dan pengalaman kita untuk menghadapi medan di lapangan yang serba terbatas, ”ujar dokter yang kerap yang disapa Wisnu tersebut. Lebih dari itu, peran seorang dokter terkadang bisa merangkap sebagai “psikolog” untuk kasus-kasus tertentu mengingat problematika yang dihadapi para pekerja sangat beragam. “Terkadang ada karyawan yang bosan serta stress dengan pekerjaannya terutama mereka yang baru datang dan masih memerlukan waktu untuk adaptasi,” papar Wisnu.Apalagi, menurut Wisnu, lingkup pergaulan di field sangat luas tak hanya lintas budaya lokal tetapi juga antar Negara. “Kita juga memiliki tenaga kerja asing dan biasanya tenaga ekspatriat ini hanya mau bergaul dengan lingkungan mereka saja jadi secara tidak langsung ini bisa menciptakan jarak sekaligus memberikan beban psikologis tersendiri bagi pekerja lokal,” ujar Wisnu. Selain soal pergaulan hal lain yang bisa mengakibatkan stres bagi karyawan adalah tekanan pekerjaan yang tak biasa dengan mengharuskan mereka siaga 24 jam penuh. “Secara umum durasi kerja karyawan memang 12 jam namun pada sisi lain mereka juga harus standby 24 jam. Ketika kondisi darurat suka atau tidak, capek atau tidak mereka harus siap setiap saat,” tukas Wisnu.Tekanan pekerjaan yang tinggi tentu secara langsung berimbas pada metabolisme tubuh secara keseluruhan. Karena itu asupan yang dibutuhkan oleh tubuh juga menjadi berbeda. Bentuk asupan itu adalah dengan terjaganya suplai makanan bernutrisi tinggi. “Kebutuhan gizi bagi para pekerja menjadi dua kali lipat lebih banyak dari konsumsi normal mereka,” papar Wisnu. Jika diilustrasikan, lanjut Wisnu, minimal orang dengan berat badan 70 kg harus mendapatkan asupan sebanyak 2400 kalori per hari. Adapun untuk memenuhi jumlah kalori tersebut caranya dengan menambah porsi makan. Karena dalam hitungannya sepiring nasi dengan lauk lengkap berisi 600-700 kalori, jadi untuk mencapai angka 2400 maka porsinya harus ditambah menjadi 3-4 kali. Menurut Wisnu dalam siklus makan selama 24 jam yang terbagi menjadi breakfast, lunch, dinner dan supper masih dibutuhkan tambahan guna memenuhi tingginya kebutuhan nutrisi bagi para pekerja. “Di antara sarapan dengan makan siang ada coffee time diantara lunch dengan dinner ada cofeee time diantara dinner dengan supper jam 12 malam ada coffee time,” ujar Wisnu. Namun pada sisi lain, tingginya pola makan dengan nutrisi padat ditambah menu yang menggiurkan juga jika tidak dikontrol juga bisa berdampak pada kesehatan. Terutama bagi karyawan yang lebih banyak bekerja di belakang meja. “Terkadang orang tidak sadar, terlebih kegiatan makan jadi sebuah kegiatan rekreatif. Di situ kita bertemu dengan teman kalau sudah ngobrol kadang suka lupa. Biasanya mereka bermasalah dengan hal itu,” ujar Wisnu.Akan tetapi hal tersebut bisa diminimalisasi dengan adanya pro­ses screening yang ketat. “Setahun sekali kita lakukan screening. Lewat medical check up yang rutin kita bisa menangkap indikator faktor-faktor risiko sehingga bisa memberikan notifikasi kepada karyawan, untuk diambil tindakan entah dengan berobat atau perlakuan.” papar Wisnu. Terlebih lagi setiap karyawan yang ada di lapangan dituntut berada dalam kondisi fit sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang telah ditentukan. Artinya kondisi prima menjadi hal mutlak bagi karyawan untuk terjun di lapangan. Faktor risiko sendiri tak hanya menyerang pekerja berusia matang tetapi juga mereka yang masih muda.”Kadang masalah yang kita prediksikan akan muncul pada usia di atas 40 justru muncul di awal 30-an,” ujar Wisnu. Menurut Wisnu hal ini dilatarbelakangi oleh faktor psikologis anak muda yang masih memiliki ambisi besar untuk mengejar level dan pencapaian tertinggi sampai akhirnya dia memacu dirinya lebih kencang. “Karena dia merasa bertenaga dan masih muda maka dia mengeluarkan tenaganya tanpa diimbangi dengan relaksasi yang cukup. Akibatnya bias kena serangan jantung bahkan early stroke,” katanya.Karena itulah health promotion menjadi sangat penting bahkan bisa seminggu sekali sehingga para karyawan menjadi lebih aware terhadap kesehatan mereka sendiri. Proses penyeimbangan itu sendiri terdiri dari macam hal termasuk istirahat yang cukup dalam konteks tidak hanya tidur tetapi “mengendurkan” konsentrasi. Artinya perlu sebuah katup pelepas stress untuk memberikan efek rileks pada tubuh. Karena saat stress mencapai puncak maka bisa dipastikan kalibrasinya tidak beraturan, dan hal tersebut akan berimbas pada produksi dan produktivitas mengingat semuanya berhubungan dengan chritichal part nyawa banyak orang. “Kesalahan sedikit maka berakibat fatal karena berhubungan dengan nyawa dan posisi kita tidak seperti di kota kalau terjadi sesuatu gampang mendatangkan ambulans, karena itu kita sangat concern dengan healty mine,” ujar Wisnu. Apalagi tuntutan pekerjaan dari sisi timing time table semuanya harus terpenuhi dan di satu sisi standar keselamatan juga harus ditaati biasanya pada area inilah potensi konflik kepentingan bisa terjadi. “Demi mencapai target kesannya teman-teman sudah tidak mempedulikan dirinya sendiri, mereka sangat sadar begitu ada delay maka dampaknya berantai ,” tukas Wisnu. Padahal, bagaimanapun, korelasi antara tuntutan pekerjaan dan faktor keselamatan berjalan seiring. “Karena itulah selain medical check-up program anti vaksinasi, hepatitis, typus, influenza juga teratur kita lakukan,” ujar Wisnu menutup pembicaraan.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1073722
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT