Optimalisasi Batubara Menjadi Energi
KOLOM Optimalisasi Batubara Menjadi Energi
___________________________________________________________________________Indonesia baru menjadi eksporter batubara peringkat ke-6 pada tahun 1991. Posisi Indonesia saat itu jauh di bawah China dan Columbia. Sementara harus diakui bahwa negara Tirai Bambu ini mempunyai visi jauh ke depan. Negara ini menganggap bawah batubara bukan sebagai komoditas, tapi harus digerakkan sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis barubara.Itu sebabnya, China merupakan eksportir batubara terbesar di dunia merasa galau menghadapi subsitusi minyak pada 50 tahun ke depan. Kecemasan itu yang menyebabkan China merubah policy menjadi negara importer batubara, yang sebelumnya sebagai negara eksporter batubara.Di saat yang sama kita (Indonesia) terjebak dengan kondisi yang sama dengan China di era tahun 90-an. Sementara China merubah kebijakan dengan menjadi importer batubara. Sementara Indonesia tetap menjadi negara eksporter batubara, di mana saat itu permintaan batubara dunia meningkat.Ketika Indonesia memberlakukan Otonomi Daerah, banyak sekali bermunculan Izin Usaha Pertambangan (IUP). Fenomena ini menjadi awal kekacauan industri batubara. Memang pada 3 Juli 2008 harga batubara tertinggi mencapai US$ 190-an per ton. Trend penjualan batubara mengarah ke paper trading. Kondisi ini yang merusak harga pasar batubara. Pada September 2008 harga batubara anjlok menjadi US$ 137 perton. Harga ini kembali anjlok pada Desember 2008 menjadi US$ 70 perton. Saat itu harga batubara Indonesia rata-rata US$ 50 perton, sehingga pada tahun 2009 ekspor jauh lebih murah dibandingkan dengan harga domestik. Jadi, keuntungan batubara berasal dari domestik. Saat ini harga batubara terjun bebas. Harga batubara berkalori tinggi pada September 2014 hanya bertengger US$ 67 perton. Dengan harga tersebut, margin-nya sangat tipis. Sedangkan harga batubara berkalori 5000 berkisar US$ 47 – US$ 48/ton, sementara cost produksi sudah mendekati US$ 40 – 42/perton. Dengan harga batubara seperti itu, bukan tidak mungkin tambang batubara berkualitas tinggi dan berkualitas rendah akan mati. Apalagi bila harga terjerembak lagi ke angka US$ 60/perton.Adanya rencana pemerintah Jokowi – JK mengoptimalisasikan pendapatan negara dari sektor pertambangan memang harus dikaji secara matang. Bila ingin dioptimalkan dari penarikan pajak, misalnya, maka pajak-pajak yang sudah ditarik dari PKP2B generasi ke satu sudah mencapai 45%. Menurut saya kalau kita mau mengoptimalisasi penerimaan negara dari sektor batubara, maka perusahaan-perusahaan pertambangan batubara pemegang IUP harus dibenahi.Di samping itu, bagaimana meningkatkan pendapatan yang bukan hanya dapat ditarik semata, tapi bagaimana meningkatkan nilai dari batubara itu sendiri. Memang sempat dikaji pada tahun 1998 untuk melakukan pencairan batubara. Pada saat itu disimpulkan bila harga batubara mencapai US$ 25 perton akan menemukan harga keekonomisan pencairan batubara. Tapi sampai harga batubara mencapai US$ 100-an pun program ini tidak berjalan, bahkan sampai harga turun kembali di level US$ 67 perton pun tidak berjalan. Nah, melihat kondisi tersebut, maka hal menarik yang perlu dibahas adalah memanfaatkan batubara untuk dioptimalkan sebagai energi. Di South Africa batubara sudah mampu dimanfaatkan mencapai 160.000 barrel perday. Cara berpikir kita seharusnya bukan hanya sekedar mengoptimalisasikan pendapatan dari sektor batubara, tapi mengorganisasikan pemanfaatan batubara menjadi energy.• Penulis adalah Ketua Bidang Kebijakan Publik Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI). Opini ini disarikan dari pembicaraan Beliau saat Sarasehan bertajuk: Optimalisasi Peningkatan Negara di Sektor Minerba yang diselenggarakan oleh Megawati Institut.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1074778
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT