CSR Pertambangan: Menjadi Anak Baik untuk Negeri
Liputan Khusus CSR Pertambangan: Menjadi Anak Baik untuk Negeri
___________________________________________________________________________Jika perusahaan semata dihadapkan pada tuntutan untuk mencari keuntungan, itu kuno sekarang! Memburu profit memang penting, tapi bukan yang utama. Pasalnya, dalam konteks pembangunan saat ini, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada aspek keuntungan secara ekonomis semata, namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya. Dalam kaitan itu, perusahaan tambang tak lagi sekadar menghamba pada kegiatan ekonomi untuk menciptakan profit demi kelangsungan usahanya. Perusahaan juga turut bertanggung jawab terhadap aspek sosial dan lingkungannya. Inilah komitmen corporate social responsibility (CSR) itu.Kini, CSR tidak bisa terlepas dari kon­sep pembangunan berkelanjutan (sus­tainability development). Menurut The World Commission On Environment and Development yang lebih dikenal dengan The Brundtland Comission, pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan mereka.Jika mau dipersempit pada kepentingan perusahaan, CSR adalah alat agar perusahaan bisa terus beraktivitas secara berkelanjutan. “Kata kuncinya CSR adalah sustainability dari perusahaan,” kata Wakil Ketua Kadin Bidang CSR, Suryani Motik. Maksudnya, agar perusahaan langgeng, maka ia harus berbuat sesuatu bagi masyarakat sekitarnya.Namun, menurut Yani, panggilan akrabnya, CSR banyak disalahartikan oleh para pejabat negara maupun perusahaan sebagai bentuk kewajiban dunia usaha pada pemerintah. “CSR bukanlah kewajiban dunia usaha terhadap pemerintah. Kalau kewajiban dunia usaha sudah jalan melalui pembayaran pajak,” katanya. Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif Asosasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Suprihatna Suhala. Selama ini, menurutnya, pengertian CSR dikerdilkan semata pada kegiatan community development (comdev). “Orang awam mempersepsikan CSR itu kegiatan comdev. Padahal, CSR lebih luas dari itu,” katanya. Jika merujuk pada standard ISO (International Standards Organisation) 26000, kegiatan CSR meliputi banyak aspek. CSR adalah kewajiban sosial perusahaan terhadap stakeholder-nya. “CSR juga kewajiban perusahaan terhadap pegawai sendiri, konsumen, vendornya, lingkungannya, masyarakat sekitar, dan lingkungannya. CSR juga mengurusi kesejahteraan pegawai,” ujar Suprihatna. Kabar baiknya, menurut Yani, industri pertambangan tanah air cenderung memiliki pemahaman yang cukup maju terkiat dengan CSR. “Tambang saya kira termasuk industri yang cukup maju pemahaman terhadap CSR dibanding industri lain,” ujarnya. Hal ini, lanjutnya, tak lepas dari bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang selama ini lebih cenderung dianggap sebagai perusak lingkungan.Selama ini, orang awam mengetahui bahwa industri tambang dan perkebunan memfokuskan kegiatan usahanya pada eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam. “Tambang dekat dengan asumsi orang sebagai kegiatan pengrusakan lingkungan. Inilah sorotan terhadap dunia tambang selama ini,” ujar Yani.Survei APBI juga membuktikan, CSR masyarakat tambang lebih maju dibandingkan dengan industri pabrikan lainnya. Sebab, menurut Suprihatna, dalam periode tertentu, kegiatan pertambangan boleh dikatakan turut merusak keadaan tanah dan lingkungan sekitar. “Itu sudah menjadi hal yang lama, bahwa perusahaan yang baik melakukan comdev, juga kewajiban pada masyarakat setempat. Ini juga menjadi filosofi good mining pratices,” katanya. Pertanyaan lanjutannya, adalah program CSR yang bisa diidealkan? Yani punya jawabannya. Kegiatan CSR bisa digolongkan ideal jika meliputi banyak aspek. Antara lain, masalah hukum, kesejahteraan pegawai, pelibatan dengan masyarakat sekitar, comdev, pendidikan, kesempatan kerja. “Semua itu adalah CSR. Kalau masyarakat di sekitar kita terlibat, pasti mereka tak mau juga perusahaan bangkrut,” katanya. Karena itulah, muncul istilah audit CSR. “Ke depan memang perusahaan yang baik akan melakukan audit CSR,” tutur Yani. Dalam audit yang dilakukan lembaga independen ini, lanjutnya, akan diketahui apakah CSR sudah dilakukan dengan baik, dananya digunakan untuk apa dan ke mana saja. Dari situ, dapat diketahui apakah sebuah perusahaan tambang sudah melakukan CSR dengan baik dan benar.Ke depan, menurut Suprihatna, CSR akan menjadi semacam green label atau eco label bagi industri pertambangan. “Kalau perusahaan tak comply dengan ini, penalti atau hukumannya adalah hukuman sosial. Orang jadi tak mau beli batubara yang kita produksi,” katanya.Bagi pihak yang tak peduli dengan regulasi dan prinsip good mining practices, akan ada hukuman yang bakal menimpanya. “Memang tak bisa dihindari, di semua sektor juga ada orang nakal. Saya kira bukan di pertambangan saja, tapi merupakan bagian dari bangsa ini,” ujarnya. Nah!
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1074723
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT