Industri Alat Berat di Simpang Jalan; Tergilas Oleh Turunnya Sektor Tambang
Liputan Khusus Industri Alat Berat di Simpang Jalan; Tergilas Oleh Turunnya Sektor Tambang
___________________________________________________________________________Asa yang melambung itu kini meleleh pelan-pelan. Tadinya industri alat berat nasional berani mematok bisa memproduksi sekitar 10.000 unit di tahun ini. Nyatanya, penurunan harga komoditas membuat daya beli konsumen di dalam negeri semakin menurun. Target produksi pun harus direvisi.Praktis terjadi penurunan hingga 25 persen dari target yang sudah ditetapkan. Ketua Umum Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi) Pratjojo Dewo mengatakan, harga komoditas global yang sering mengalami penurunan me­le­mahkan permintaan alat berat.

Selain harga komoditas, penurunan permintaan alat berat di sektor pertambang­an juga akibat dari pemberlakuan bea keluar ekspor barang mineral non olahan sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara. Aturan tersebut melarang ekspor barang mi­neral non olahan pada 2014 sehingga mempengaruhi industri alat berat nasional.
Dengan begitu, Hinabu telah merevisi target produksi alat berat nasional sebesar 15 persen dari 10 ribu unit menjadi sekitar 8.000 unit pada tahun ini. Pratjojo Dewo mengatakan,  penurunan target produksi alat berat ini memang disebabkan oleh efek berantai pelemahan kondisi ekonomi dunia. Di sisi lain, pelemahan ekonomi di Eropa membuat pasokan alat berat tidak terserap optimal sehingga berpotensi dialihkan ke kawasan lainnya, termasuk ke kawasan Asia.Pelemahan ekonomi dunia ini turut berdampak pada penurunan permintaan terhadap sejumlah komoditas. Akibatnya, harga komoditas seperti pertambangan dan perkebunan turun. Padahal, dua sektor tersebut merupakan kontributor utama pengguna alat berat selain juga sektor konstruksi.Jika ditelisik, ramalan soal potensi turunnya kinerja industri alat berat nasional sudah bisa ditebak sejak pertengahan tahun 2012 lalu. Hal ini diawali dengan penurunan segmen pertambangan batubara yang mendominasi industri pertambangan di Indonesia. Segmen pertambangan merupakan segmen pengguna alat berat terbesar di Indonesia.Menurut Departemen Riset Indonesia Finance Today (IFT), sejak awal tahun sampai dengan Juli 2012 harga batubara telah terdiskon hingga 27 persen. Penurunan ini mendorong beberapa perusahaan batubara untuk menurunkan produksi dan berakibat kepada pengurangan bahkan pembatalan pesanan alat berat.Di sisi lain, Asosiasi Perusahaan Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) juga memperkirakan, produksi batubara di semester II 2012 lebih rendah dibanding­kan produksi batubara pada semester I dengan asumsi harga yang lebih rendah daripada harga rata-rata batu bara pada semester I yang mencapai US$ 80-US$ 84 per ton.Kurang kondusifnya industri pertam­bang­an Indonesia terutama pertambang­an batubara telah berdampak pada penjualan PT United Tractors Tbk (UNTR) pada Juli 2012 lalu, yang dilaporkan hanya mencapai 500 unit, jauh di bawah level penjualan bulanan yang rata-rata 700 unit.Seiring penurunan harga komoditas batubara, UNTR telah merevisi target penjualan alat beratnya. Pada 2012 lalu, dari 9.500 unit menjai 8.467 unit atau sama dengan realisasi penjualan 2012. Selain karena penurunan harga komoditas batubara, revisi target penjualan juga disebabkan penerapan bea keluar ekspor produk mineral non olahan.Situasi ini juga terulang di tahun ini. Selama Januari hingga Agustus 2013, penjualan alat berat UNTR mengalami penurunan sekitar 40,7 persen menjadi 2.981 unit bila dibandingkan pada tahun lalu diperiode yang sama sebesar 5.035 unit. Menurut Investor Relations UNTR, Ari Setiawan, pada Agustus lalu, perseroan hanya menjual sebanyak 211 unit alat berat. Sektor agro menjadi kontributor utama penjualan alat berat pada Agustus dengan persentase 38 persen atau mengalahkan sektor pertambangan hanya mencapai 30 persen. “Namun, selama delapan bulan, sektor pertambangan masih menjadi kontributor penjualan terbesar dengan porsi 45 persen,” ujarnya seperti dikutip Investor Daily.Selain UNTR, emiten alat berat lainnya, PT Intraco Penta Tbk (INTA) juga berencana merevisi target penjualan alat beratnya, termasuk target pendapatannya tahun ini. Begitu juga dengan produsen lainnya, se­perti PT Komatsu Indonesia atau Catterpillar yang keduanya memproduksi alat berat dengan merek berbeda, berpotensi mengalami penurunan permintaan.Menurut Departemen Riset IFT, potensi penurunan penjualan alat berat tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di dunia secara umum. Pemicunya adalah penurunan harga komoditas pertambangan yang tidak hanya berlaku pada komoditas batubara yang banyak ditambang di Indonesia, tapi juga berlaku pada komoditas yang lain. Inikah persimpangan jalan bagi industri alat berat?
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1036111
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT