Kontroversi Permendag 32 Tahun 2013; Picu DegradasiEkonomi Bangka
Liputan Khusus Kontroversi Permendag 32 Tahun 2013; Picu DegradasiEkonomi Bangka
___________________________________________________________________________Ungkapan tersebut disampaikan Gubernur Bangka Belitung (Babel) Rustam Efendi kepada media lokal sekitar pertengahan November 2013. Secara tidak langsung dia meminta agar pemerintah pusat turun langsung ke bumi Serumpun Sebalai, dan meninjau langsung kondisi ekonomi masyarakat yang menurun. Penururnan tersebut sebagai implikasi atas pemberlakuan Permendag Nomor 32 Tahun 2013. Permendag ini berisi perubahan Permendag Nomor 78 Tahun 2012 tentang ketentuan ekspor timah pasir. Menurut Rustam perubahan tersebut sangat merugikan penambang rakyat karena mereka tidak bisa lagi menjual hasil tambang timahnya. Padahal di Bangka Belitung (Babel) hampir 80 persen masyarakat lokal maupun pendatang mengandalkan ekonominya dari hasil penambangan timah. Di sisi lain penambangan timah juga menjadi motor penggerak untuk kegiatan ekonomi lainnya. Akibatnya kini masyarakat Babel sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena tidak lagi bisa menambang dan menjual hasil tambang timahnya.Tidak hanya Rustam Effendi yang berteriak keras akan ketidakkondusifan perekonomian Bangka. Bupati Bangka Erzaldi Rosman juga lantang mendesak pemerintah pusat sebagai regulator agar mau membuka mata dan menyaksikan bagaimana penderitaan masyarakatnya kini. Ketika ditemui secara di kantornya, ia menceritakan jika pemberlakuan Permen timing-nya kurang mengena, juga terlalu mendesak. Meski pusat selalu menganalogikan jika regulasi ini demi meningkatkan posisi tawar pertimahan Indonesia di dunia dan akan menguntungkan Negara. Tapi menurut Erzaldi dalam membuat aturan pemerintah pusat harus melibatkan pengusaha lokal, khususnya rakyat. Karena jika tidak seperti yang terjadi saat ini, peraturan tersebut justru menjadi bumerang yang mematikan rakyat.“Bagaimana aturan Permendag bisa dikeluarkan, tapi bisa mematikan rakyat secara nasional. Dalam situasi dunia yang melesu sekarang yang harus kita utamakan kesejahteraan masyarakat, jangan biarkan mereka tidak mendapat pekerjaan atau menurun perekonomiannya,” ujar Erzaldi. Di sisi lain menurut Erzaldi ekonomi daerah juga ikut turun. Ia bukan tidak setuju, tapi apakah Permendag 32 bisa dilaksanakan dengan tempo singkat sekitar satu bulan dan sosialisasinya juga sangat kurang hanya satu kali saja. Menurut Erzaldi pemberlakuan Permendag 32 ini justru semakin menambah amburadul kondisi pertimahan Babel yang tanpa adanya Permen inipun kondisinya sudah tidak kondusif. “Sebaiknya, Permendag 32 ini ditunda 1 atau 2 tahun, pemerintah daerah Babel siap berkomitmen dengan catatan semua stakeholder harus duduk bersama mulai dari pemerintah daerah, Kementrian ESDM, Kementrian Kehutanan, serta DPR,” tegas Erzaldi. Dengan kata lain Erzaldi meminta agar Permendag 32 jangan diberlakukan dulu untuk meredam gejolak di masyarakat. “Mudah-mudahan masukan kita dide­ngar selanjutnya kita tunggu actionnya yang penting masyarakat bisa ekspor dulu kemudian buat kebijakan selanjutnya untuk pengaturannya.” Permendag 32 tahun 2013 dengan Ketentuan Ekspor Timah yang membatasi perdagangan ekspor timah yang mewajibkan melalui Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) juga mengakibatkan penurunan penjualan. Salah satu perusahaan yang terkena dampaknya adalah PT Timah Tbk (TINS) (Persero). Direktur Utama PT Timah, Sukrisno mengungkapkan hingga akhir paruh pertama 2013 volume penjualan timah mencapai 10.951 ribu matrick ton. Nilai ini turun 36,4 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal Perseroan menargetkan di akhir tahun harga timah menembus 25 ribu dolar AS per ton. Dengan harga itu turunnya volume penjualan akan tertutupi. “Kami melihat volume penjualan turun, tapi, harga naik itu yang akan kita kejar. Kalau tidak ada alternatif ekspor lain, kemungkinan ekspor timah Indonesia hanya 2.000 ton per bulan. Biasanya bisa lebih dari itu, makanya kita berharap harga timah naik,” ujar Sukrisno.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1052799
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT