Biaya Penambah Daya
Liputan Khusus Biaya Penambah Daya
___________________________________________________________________________Apa arti industri pembiayaan bagi sektor pertambangan? Ja­wab­annya, tentu penting sekali. Masalah pendanaan menjadi salah satu masalah tersendiri dalam bisnis pertambangan di Indonesia. Apa sebab, sektor ini memang padat modal, di samping juga padat dengan teknologi.“Industri pertambangan itu capital intensive, juga technology intensive,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Bob Kamandanu. Selain padat modal, industri ini pun dikenal padat risiko. Karena itu, pelaku industri di bidang ini sebisa mungkin menghindari risiko yang bisa menimbulkan kerugian.Dengan modal yang besar tersebut, pelaku bisnis di sektor pertambangan tentu tak akan mau mengambil risiko dalam hal apapun. Aktivitas usaha pun dilakkan dengan begitu hati-hati. Misalnya, menghindari penambangan pada lahan yang belum jelas perijinannya. Demi mengejar benefit semaksimal mungkin, diterapkanlah teknologi tinggi di dalamnya. Industri tambang yang tadinya ter­tutup bagi perusahan kecil dan menengah, sekarang ini, dengan lembaga koperasi pun diberikan peluang bergerak dibi­dang pertam­bangan. Ramainya pem­bukaan tam­bang batubara pada tahun 2000 hingga sekarang mengundang in­vestasi lebih ramai masuk Indonesia, baik melalui lembaga maupun melalui peseorangan. Debit lahan batubara pun dalam waktu singkat dinyatakan sold out. Kalau pun masih ada tersisa, akan sangat mahal dan berbiaya tinggi. Belum harus menempuh risiko kisruh dan ketidakjalasan status otoritas pemegang Izin Usaha Pertambagan (IUP) membuat investasi mengalami ancaman lose dan sangat berisiko.Menanam modal di proyek per­tambangan pada umumnya sama dengan sektor lain, sebutlah sektor properti. Melalui pemegang izin prinsip dilakukan take over atau pun join operasi. Keamanan investasi selalu jadi pertanyaan, karena di­khawatirkan sewaktu-waktu terja­di dead lock disebabkan berbagai alasan. Sementara, bagi pihak investor yang rata-rata berasal dari negeri tetangga, selalu berpatokan pada pola: berikan loan, kuasai, dan tinggalkan wilayah proyek jika terjadi ancaman. Mengingat pembiayaan ini penting bagi industri pertambangan, sejum­lah kalangan pun ramai-ramai me­masuki industri pembiayaan. Mulai dari pribadi maupun perorangan, hingga lembaga keuangan seperti bank maupun nonbank. Bagi pelaku industri pertambangan sendiri, bank dikenal sebagai sumber pendanaan penting dalam pengembangan usaha. Bagi mereka, peran bank bukan saja sekadar menyediakan tambahan modal usaha, baik untuk investasi maupun modal kerja. Lebih dari itu, bank melalui account officer-nya (AO) menjadi sumber informasi, konsultan, dan sahabat bagi para pengusaha. Karena itulah, para pelaku industri pertambangan datang ke bank bisa dengan sejumlah motif. Pertemuan bukan saja sekadar membicarakan persyaratan pinjaman dan pengem­baliannya. Lebih jauh dari itu, obrolan mereka bisa menyangkut apa saja yang perlu dibicarakan baik terkait dengan masalah bisnis maupun di luar bisnis. Perbankan merupakan instrumen penting bagi pembiayaan dunia usaha dan industri termasuk sektor pertambangan. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, in­dustri pertambangan cukup me­nyedot perhatian perbankan. Ko­mitmen mereka pun diwujudkan dalam bentuk program pembiayaan yang dikhususnya pada sektor pertambangan. PT Bank Negara Indonesia (BNI), misalnya, yang memiliki komitmen untuk membiayai sek­tor pertambangan terutama non migas. Bank pelat merah ini memang menjadikan sektor tersebut merupakan salah satu dari delapan sektor unggulan yang menjadi fokus penyaluran kredit. Kendati tengah melesu, sek­tor pertambangan di­per­kirakan tetap akan berkembang seti­daknya hingga lima tahun ke depan. Terbukti, BNI juga tetap fokus di sektor tersebut sejalan dengan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pemba­ngunan Eko­nomi Indonesia (MP3EI) yang di­susun pemerintah. Dalam program tersebut, pertam­bangan non migas berupa batubara, nikel, tembaga, dan bauksit, merupakan bagian dari 22 kegiatan ekonomi utama. Pasalnya, kontribusi pertambangan non migas dalam beberapa tahun terakhir tergolong cukup besar terhadap perekonomian Indonesia. Sebagai contoh, kontribusi sebesar 6 persen pada 2009 menjadi 6,8 persen pada 2011. Salah satu penyumbang terbesarnya berasal dari sektor batubara. Di sisi lain, bank terbesar seperti Bank Mandiri (Persero) Tbk, juga memiliki perhatian yang sama terhadap sektor pertambangan. Menurut Chief Economist Bank Mandiri, Destry Damayanti, Bank Mandiri telah membukukan pertumbuhan kredit valas ke batubara sebesar 43 persen pada 2011. Kendati, lanjutnya, belakangan perseroan menyetop kredit valas ke perusahaan batubara, kecuali untuk keperluan operasional perusahaan tersebut. Yang terang, Bank Indonesia (BI) memiliki catatan tersendiri terkait dengan penyaluran kredit bank terhadap sektor pertambangan. BI mencatat, total penyaluran kredit bank umum kepada sektor pertambangan menembus angka Rp 89,09 triliun hingga Agustus 2012, meningkat 18,27 persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp75,33 triliun.Selain dua bank pemerintah di atas, penyaluran kredit beberapa bank swasta ke sektor pertambangan juga tak kalah besarnya. Begitu juga dengan lembaga nonbank lainnya, baik yang bersifat perorangan maupun lembaga. Memang, dengan segala peluang dan risikonya yang dimilikinya, indus­tri pertambangan tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1035015
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT