2016 Cadangan Habis, Freeport Kebut Underground Mining
NEWS 2016 Cadangan Habis, Freeport Kebut Underground Mining
Rozik B Soetjipto pada zorientasi wartawan FWESDM memeaparkan rencana penambangan bawah tanah dan hilirisasi...___________________________________________________________________________Jakarta, 30 Agustus 2013 – Grasberg adalah kompleks tambang dimana sebagian besar lokasi pertambangan Freeport Indonesia termasuk Big Gossan, di semester pertama tahun 2016 akan berhenti beroperasi. Dengan berhentinya operasi ini, Rozik B Soetjipto, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) menegaskan bahwa kini tambang terbuka (open pit) mereka tidak produktif lagi dan hanya menyisakan 11% cadangan mereka. Sedangkan 89% cadangan Freeport diyakini ada dalam underground mining (penambangan bawah tanah) yang nanti akan dimulai.
Dengan akan dialihkannya semua tambang PTFI ke bawah tanah, Freeport kini terus menggenjot persiapan dan produksi mereka. Bahkan mereka mulai membangun terowongan yang akan menghubungkan semua kompleks penambangan bawah tanah mereka yaitu Grasberg Block Cave (GBC), Kucing Liar (KL), Mill Level Zone (MLZ), Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan (BG). Ini pula yang menjadi alasan Freeport tidak visible jika membangun industri smelter sendiri karena menipisnya cadangan mereka, namun mereka meyakini begitu pertambangan bawah tanah ini mulai beroperasi akan menjadi pertambangan bawah tanah terbesar di dunia.

“Tambang Freeport tidak ekonomis lagi karena 2016 cadangan kita akan habis, maka tidak masuka akal kalau kita akan membangun smelter karena membangun smelter adalah bicara cadangan. Jika selama ini dianggap enggan membangun, padahal pertimbangan kita realistis. Kita menyiapkan cadangan untuk jangka panjang, maka kita harus kembangkan underground mining yang akan menjadi pertambangan bawah tanah terbesar di dunia, dan yang akan menjadi tulang punggung PT Freeport”, tegas Rozik saat mengisi Orientasi wartawan FWESDM di Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/08/13).

Diyakini besarnya cadangan tambang bawah tanah hingga 89% ini tentu juga menjadi pekerjaan rumah besar bagi Freeport bagaimana agar bisa mendapatkan cadangan tersebut. Malah dalam paparannya, Rozik menceritakan jika nanti akan dibangun juga terminal pengangkutan karyawan dengan bus dimana sekali mengangkut akan mampu membawa 200 karyawan, ada pula jalan-jalan dengan cabang yang menghubungkan ke berbagai arah dan Grasberg-lah yang paling besar arah cadangannya.

“Saat ini dbahas dengan pemerintah berapa wilayah untuk operasi produksi dan wilayah pendukung untuk fasilitas yang diperlukan, yang underground 89% cadangannya dan yang ada hanya 11% di open pit, tapi bagaimana mengambilnya adalah persoalan lain. Yang pasti metode penambangan paling efisien bijih dalam relatif besar dan kadar sama nggak, seperti yang Big Gossan”, tandasnya.

Dijelaskan salah satu media local, Big Gossan merupakan tambang bawah tanah yang memiliki deposit bermutu tinggi yang terletak dekat kompleks pertambangan Freeport Indonesia di Grasberg. Big Gosan akan terus dikembangkan menjadi open stoping mine dengan menggunakan hasil pengurukan tailing dan semen, sebuah metodologi pertambangan baru buat Freeport sendiri. Produksi, yang dimulai pada kuartal keempat 2010, dirancang mencapai puncak hingga 7.000 metrik ton bijih per hari pada pertengahan tahun 2013. Ini setara dengan rata-rata agregat produksi tambahan tahunan, 125 juta pon tembaga dan 65.000 ons emas. PT Freeport Indonesia menerima 60 persen dari jumlah ini. Investasi modal untuk proyek ini diperkirakan sekitar $550.000.000, dimana saham PT Freeport Indonesia mencapai total nilai sekitar $518.000.000. Biaya proyek $494.000.000 telah dikeluarkan hingga 31 Desember 2011 ($50.000.000 selama 2011).
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1073337
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT