APEMINDO Siap Perjuangkan Divestasi Inalum Bagi Lokal dan Nasional
NEWS APEMINDO Siap Perjuangkan Divestasi Inalum Bagi Lokal dan Nasional
Ketua Umum APEMINDO Poltak Sitanggang saat memberi keterangan pers pada wartawan (foto: borneomagazine.com)___________________________________________________________________________Jakarta, 18 Oktober 2013 - Meski telah berdiri selama 40 tahun, PT Inalum (Indonesia Asahan Aluminium) dinilai kurang berkontribusi terhadap kebutuhan masyarakat sumatra Utara terutama di sektor ketenagalistrikan. Terbukti meskipun menggunakan PLTA Provinsi Sumatera Utara masih juga mengalami defisit listrik, hingga pada akhir September kemarin disampaikan permohonan kepada Inalum agar bersedia menyumbang 120 megawatt (MW) energi listriknya. Permohonan itu ditujukan untuk mengatasi defisit listrik 150 MW saat ini.

Atas permasalahan ini APEMINDO menyikapi tegas, dimana Inalum yang notabene sahamnya dimiliki Pemerintah Indonesia 41,13% , sisanya 58,87% dimiliki oleh konsorsium Nippon Asahan Aluminium Co Ltd (NAA). Ketua Umum APEMINDO poltak Sitanggang menyatakan jika pihaknya kini tengah berupaya memperjuangkan divestasi atas saham NAA agar sebagian besar bisa dialokasikan bagi kepentingan masyarakat lokal dan nasional.

"Disana ada industri aluminium yang menggunakan sumber energi air yang ada di Indonesia, yang jadi pertanyaan kita apa kontribusi Inalum terhadap masyarakat sekitar katakanlah lingkar masyarakat Sumut atau danau Toba. Sekitar 40 tahun penguasaan Inalum ini rugi padahal gunakan PLTA. Ini namanya pembodohan nasional, dan saya tidak mau jadi yang bodoh. APEMINDO ingin jalankan sesuai UU nomor 4, salah satunya energi yang terbesar saat ini adalah Asahan yang dikuasai jepang, kita ingin pengusaha nasional diberi kesempatan untuk menunjukkan bahwa industri ini sangat menguntungkan dan nanti berkontribusi secara nasional dan lokal", tegas Poltak kapada media di hotel Sultan, Jakarta, (18/10/13).

Poltak menekankan peranan lembaga hukum seperti KPK yang harusnya bisa melakukan audit kembali terhadap progeam CSR (Corporate Social Responsibility) apakah benar keuntungan Inalum sangat minim sehingga tidak bisa berkontribusi terhadap masyarakat lokal.

Oleh karena itu, saat pihaknya mengetahui kini tim perunding antara pemerintah dengan NAA tengah membahas perbedaan perhitungan antara pihak Jepang dan Indonesia. Selisih perhitungan terutama terkait dengan harga, nilai barang, dan nilai buku, disebabkan masih ada selisih penilaian sekitar US$100 juta antara hasil kalkulasi BPKP dan auditor yang ditunjuk NAA Jepang. Ketika pemerintah membayarkan Rp7 triliun atau senilai US$700 juta akan mendapatkan seluruh saham termasuk aset dan dana tunai di perusahaan yang nilainya mencapai lebih dari US$600 juta.

APEMINDO lantas memanfatkan moment tersebut sebagai bukti kepedulian pengusaha nasional terhadap aset bangsa, dengan membentuk konsorsium bersama pemerintah daerah.

"Kalau memang ada selisih cukup nggak selisihnya itu terhadap manfaat yang sudah mereka dapat selama ini, kenapa mereka tidak berani menuntut, untuk itu kita akan bentuk consorsium. Kita pengusaha nasional memiliki kepedulian kita mengimbau pemerintah untuk kelola ituSekarang kita gantian pengusaha nasional mengelola dan silahkan kita dikontrol, banyak pengusaha di luar sana yang menginginkan industrialisasi tapi coba kita kaji apa road map atau bisnis planning yang ia lakukan kalau. Kita ingin seluruh kekayaan alam ini berkontribusi tidak hanya secara nasional tapi juga secara lokal",tandasnya.

Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan 10 kabupaten/kota se-kawasan Danau Toba dan Asahan sepakat untuk bersama memperjuangkan 58,88% saham Jepang di PT Inalum. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan yang dilaksanakan di Hotel JW Mariott Medan, Sabtu (12/10/2013).

"Pemprov Sumut dan pemerintah kabupaten/kota sepakat berjuang menyuarakan hal yang sama," ujar Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho kepada wartawan usai pertemuan didampingi para bupati/wali kota
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1087934
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT