Kepastian Blok Mahakam
NEWS Kepastian Blok Mahakam
___________________________________________________________________________Hingga saat ini status perpanjangan kontrak blok Mahakam yang masih dioperatori Total E & P Indonesie, dan Inpex Corporation belum juga ada keputusan resmi dari pemerintah terkait pengelolaannya pasca kontrak keduanya yang akan rampung tahun 2017 nanti. Meski Total sendiri telah mengajukan proposal perpanjangan dengan melakukan komitmen investasi US$ 7,3 miliar, toh belum juga ada lampu hijau dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk melanjutkan pengelolaan blok Mahakam. Meskipun belum ada kepastian, Head Department Media Relations Total E&P Indonesie Kristanto Hartadi mengungkapkan jika sebenarnya investasi Total sudah ditetapkan tahun sebelumnya melalui Work Plan & Budget (WPNB), yang telah disepakati bersama dengan SKK Migas. Sehingga untuk tahun 2013 ini total investasi Total E& P Indonesie tidak berubah yaitu sekitar Rp 25 triliun atau 2,5 milyar USD.“Itu semua kami upayakan untuk mempertahankan produksi di blok Mahakam, supaya tidak turun karena memang lapangan tersebut sudah tua yaitu berusia 40 tahun sehingga harus dipelihara dengan baik. Maka Total E & P tetap berupaya memberikan hasil terbaik untuk bangsa dan Negara Indonesia,” jelas Kristanto Hartadi ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Selasa (23/7/13).Kristanto menegaskan, dengan angka investasi Rp 25 triliun tersebut jika masih belum juga ada kepastian pengelolaan blok Mahakam tahun ini maka ada proyek-proyek lain tidak bisa dikerjakan, mengingat satu proyeksaja bisa memakan waktu paling tidak 5 tahun. Dan jika proyek-proyek tersebut nekat dikerjakan tahun ini, tentu akan rampung melebihi tahun 2017 padahal pemerintah sendiri masih menggantung nasib blok Mahakam. “Satu proyek saja bisa 3-5 tahun maka kalau kami kerjakan sekarang bisa lewat dari 2017 dan kami belum ada kepastian sampai sekarang, siapa yang akan mengelola itu kan namanya bisnis,” imbuhnya.Sementara itu disinggung mengenai kerugian dari terhentinya beberapa proyek lain, ia memastikan kerugian akan berupa turunnya produksi karena Total tidak akan ada produksi-produksi baru yang akan menahan turunnya produksi turun. Dimana jika produksi migas turun maka income Total ke APBN dari blok Mahakam secara otomatis juga akan turun. Menurut Kristanto memang reserved tidak terpengaruh dengan penurunan produksi ini, tapi tetap harus dikerjakan dengan sangat baik dan bisa jadi pihaknya menyetop investasi jika tetap tidak ada kepastian.“Kita berharap tidak ada penurunan, tapi kalau tidak ada pengembangan potensi itu ada. Kita sudah ajukan proposal-proposal pengajuan termasuk masa transisi 3-5 tahun supaya mengalihkannya mulus tidak terjadi gangguan, jadi saat 100% diserahkan kepada siapapun yang dtunjuk pemerintah blok ini akan tetap menghasilkan optimal untuk bangsa dan Negara. Itu kerugian Indonesia.bila kami tidak kerjakan kegiatan-kegiatan maka produksi akan turun 50% karena tidak melakukan apa-apa, dan sekarang kita tahan 15-20% penurunan produksi itu. Kalau tidak ada pengembangan pasti produksi bisa menurun sampai 50%, padahal tahun lalu kami sumbang Rp 70 triliun untuk APBN,” jelasnya.Ketika dikonfirmasi langsung kepada SKK Migas, Deputi Pengendalian Keuangan Akhmad Syakhroza menjawab singkat kalau negaratidak akan rugi meski Total menurunkan produksi. Ia berpendapat selama reserved (cadangan) tetap di tempat maka negara tidak akan dirugikan.“Siapa bilang rugi, orang barangnya ada kok, nggak mungkin kamu jualan motor ada 10 sekarang dijual 2 dibilang rugi. Motornya kan di gudang, masa dibilang kerugian negara barangnya kan ada,” tandasnya.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1087921
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT