PLN Beli Pure Palm Oil (PPO) Dari 3 Perusahaan Minyak Sawit
NEWS PLN Beli Pure Palm Oil (PPO) Dari 3 Perusahaan Minyak Sawit
___________________________________________________________________________(Jakarta, 20 Januari 2014) - Untuk mendukung impelementasi penggunaan energi baru terbarukan, mulai 2014, beberapa pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) milik PLN akan segera menggunakan bahan bakar nabati, salah satunya Pure Palm Oil (PPO). Hal ini tercermin dalam penandatanganan perjanjian jual beli minyak nabati jenis PPO oleh PLN dengan 3 perusahaan besar minyak sawit. Ketiga perusahaan itu adalah :

1. PT Smart Tbk, diwakili oleh Wakil Direktur Utama, Budi Wijana.

2. PT Wilmar Nabati Indonesia, diwakili oleh Wakil Presiden Direktur, Erik Tjia.

3. PT Wilmar Cahaya Indonesia, diwakili oleh Presiden Direktur, Erik Tjia.

Penandatangan ini yang disaksikan oleh ketua APINDO, sofjan Wanandi dan ketua BKPM, Mahendra Siregar, Senin (20/1) di PLN Pusat.

Menurut Dirut PLN, Nur pamudji, PLN telah menggunakan bahan bakar nabati sejak tahun 2007 dengan melakukan eksperimen pada PLTG Talang Padang di Lampung. "Waktu itu, harga CPO di dunia sempat jatuh sehingga dilakukan eksperimen bahan bakar untuk PLTG dari CPO. Dan ternyata CPO ini bisa dijadikan untuk bahan bakar pembangkit. Kemudian, eksperimen menyebar ke Kalimantan. Namun, eksperimen dihentikan karena harga harga CPO dunia melejit lagi, melampaui harga solar," kata Nur.

Memasuki 2013, lanjut Nur, harga CPO dunia mulai turun lagi. Mengingat produksi dari sawit saat ini berada pada level 30 juta ton per tahun, bahkan pada 2020 mencapai 40 juta ton per tahun, sedangkan konsumsinya hanya 8 juta ton per tahun, pemerintah mulai melirik bahan bakar nabati ini untuk PLTD milik PLN.

"Saat ini hanya menandatangani pasokan PPO untuk pembangkit diesel, padahal dimungkinkan dipakai untuk gas turbin. Dan gas turbin ini harus ditambahkan alat tambahan yaitu pre heater. Volume yang akan dibakar oleh gas turbin ini cukup besar hingga 4 juta ton. Namun, kemungkinan tidak semuanya PPO dimasukan sebagai bahan bakar untuk gas turbin, hanya berapa persennya saja. Namun, untuk pembangkit diesel, bisa mencapai hingga 80% digantikan oleh PPO, bahkan untuk diesel ukuran kecil bisa 100% digantikan PPO. Saat ini, PLN membutuhkan 1 juta kilo liter untuk diesel, dan untuk gas turbin bisa mencapai 1,5 juta kilo liter," ucapnya.

Ke depan, PLN akan mengarahkan untuk membangun CPO engine untuk melistriki daerah-daerah pelosok yang berada di remote area, seperti pulau-pulau di Maluku, Mentawai, Nias, Simeuleu, NTT, Papua, dan lainnya.

Kerjasama jual beli PPO untuk pembangkit diesel yang berlaku untuk satu tahun ini, diklaim bisa menghemat pengeluaran PLN hingga 15% dibanding menggunakan solar.

PPO sebanyak 6.720 ton akan dipasok oleh PT Smart Tbk PPO ke Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Titi Kuning di Medan dengan volume 3.320 ton, kemudian oleh PT Wilmar Nabati Indonesia ke PLTD Bagan Besar dan PLTD Bagan Siapiapi di Dumai dengan volume 1.250 ton, dan oleh PT Wilmar Cahaya Indonesia ke PLTD Sudirman, PLTD Sambas, PLTD Menyurai Sintang, PLTD Semboja Sanggau di Kalimantan Barat dengan volume 2.150 Ton.

Selain bisa mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) oleh PLN, penggunaan PPO ini akan memberikan keuntungan lainnya, seperti bisa menghemat devisa negara karena mengurangi impor, mampu meningkatkan ketahanan energi nasional, lebih ramah lingkungan karena bahan bakar nabati itu adalah sumber energi yang terbarukan.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1037028
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT