Peningkatan Bahan Peledak Untuk Tambang Butuh Pengawasan Banyak Pihak
NEWS Peningkatan Bahan Peledak Untuk Tambang Butuh Pengawasan Banyak Pihak
Diperkirakan penggunaan bahan peledak bisa melonjak sebanyak 600 ribu ton untuk tahun ini, yang akan semakin melonjak pada tahun depan. (Foto: shmnews.co)___________________________________________________________________________Jakarta, 31 Oktober 2013 - Penggunaan bahan peledak (handak) dalam industri pertambangan mineral maupun batubara adalaalternatif yang paling efektif dan ekonomis dalam rangka membongkar batuan penutup maupun batubara/ bijih yang memiliki tingkat kekerasan yang tinggi. Bahkan menurut data yang disampaikan Kasubbid Sendak Bid Yanmas Bantelkam Polri, AKBP Kasmen,pada tahun 2013 ini kuota produksi bahan peledak mencapai 432. 000 ton, dengan jumlah impor 279. 280 ton import.

Bahkan diperkirakan penggunaan bisa melonjak sebanyak 600 ribu ton untuk tahun ini, yang akan semakin melonjak pada tahun depan. Namun hingga saat ini kebutuhan tersebut baru terpenuhi dari PT MNK dan PT KNI sebanyak 340.000 ton. Oleh karena itu pihaknya meminta agar semua institusi dengan kompak turut mengawasi penggunaan bahan peledak, baik dalam militer maupun komersial seperti di industri pertambangan.

"Penggunaan bahan peledak tidak bisa lepas dari industri pertambangan, punya fungsi ganda kebaikan dan kemudharatan. Kita perlu melakukan penelitian bahan peledak komersial dan militer, komersial seperti tambang. Pengawasannya ini juga sangat rumit, maka banyak institusi yang ikut mengawasi. Di negara kita ketentuan sejak jaman Belanda belum dihapuskan, dan masih menggunakan sanksi hukum juga UU Darurat 1931 mkarena peraturan Perundang-undangan yang ada di Indonesia sangat lamban", papar AKBP Kasmen dalam seminara Kemandiriab Industri Bahan Peledak dan Jasa Peledakan Nasional, di EMC PT. Dahana, Subang siang tadi, Kamis (31/10/13).

Hal serupa disampaikan Eko Gunarto, Kasubdit Keselamatan Pertambangan, Direktorat Jendral Mineral dan Batubara Kementrian ESDM. Ia menjelaskan dengan terus meningkatnya produksi batubara/bijih yang akan ditambang, maka terjadi peningkatan kebutuhan bahan peledak yang berpengaruh terhadap sarana penyimpanan/gudang bahan peledak yang ada.

Tentunya, kecenderungan terus meningkatnya produksi tambang Indonesia akan berdampak pada peningkatan kebutuhan handak dalam negeri.

"Diperlukan kajian mengenai supply and demand terhadap kebutuhan handak dalam negeri termasuk pengaturan yang lebih baik tentang kuota import", tuturnya.

Oleh karena itu, lanjut Eko, kemandirian handak dan jasa peledakan merupakan suatu keharusan yang perlu didukung oleh seluruh pihak. Kemandirian ini merupakan salah satu bagian dari upaya pemanfaatan barang, jasa dan teknologi dalam negeri sesuai amanat UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba.

"Hal ini diwujudkan dengan kompetensi dan sertifikasi terhadap tenaga teknis peledakan serta peningkatan pengawasan merupakan upaya nyata pemerintah untuk menciptakan pengelolaan pertambangan yang baik", tandasnya.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1053129
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT