Turunnya Komoditas Tambang Berimplikasi Pada Anjloknya Alat Berat
NEWS Turunnya Komoditas Tambang Berimplikasi Pada Anjloknya Alat Berat
Bob Kamandanu Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), menuturkan jika menurunnya hampir semua komoditas pertambangan tentu membawa dampak yang sangat signifikan terhadap penurunan produksi alat berat.___________________________________________________________________________Jakarta, 8 Oktober 2013 - Berdasarkan data Bloomberg, rata-rata harga batu bara dunia tahun 2012 turun hingga 19% secara tahunan, seiring dengan penurunan harga komoditas khususnya pertambangan. Bob Kamandanu Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), menuturkan jika menurunnya hampir semua komoditas pertambangan tentu membawa dampak yang sangat signifikan terhadap penurunan produksi alat berat.

"Pengaruhnya cukup besar karena semua komoditas dalam ekstraksinya kena semua, dan itu harus dihindari, itu berbarengan sebagian besar 70% sampai 80% perusahaan skala besar menggunakan alat berat, penurunan dia untuk satu striping ratio saja cukup lumayan", kata Bob ketika diwawancarai borneomagazine.com di Jakarta, Selasa (8/10/13).

Sejalan dengan bergejolaknya harga komoditas, Bob mengungkapkan jika tahun depan pemerintah tetap menaikkan royalti untuk IUP batubara yang disamaratakan dengan PKP2B yaitu meningkat antara 10% hingga 13% . Maka akan makin berpengaruh terhadap produktivitas alat berat, toh meskipun wacana tersebut hingga kini masih digodok oleh berbagai sektor pemerintahan.

"Prosentasenya cukup signifikan, kalau harga masih seperti ini pasti akan menurun jika tetap diberlakukan tahun 2014 banyak yang tutup, maka kontribusi untuk negara tidak akan lebih banyak. Wacana tersebut masih ditinjau kembali", imbuhnya.

Dikutip dari kemenperin.go.id, hingga akhir tahun ini produksi alat berat nasional diperkirakan mencapai 8.000 unit atau 75% dari target awal tahun akibat menurunnya permintaan dari sektor pertambangan dan harga komoditas yang terus bergejolak. Hal ini diungkapkan kata Ketua Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi) Pratjojo Dewo, ia mengatakan jika harga komoditas global, menurut Dewosering mengalami penurunan dan rnelemahkan permintaan alat berat.

"Tahun ini, pennintaan alat berat di pasar dalam negeri semakin menurun. Imbasnya, produksi alat berat hanya menyentuh 8.000 unit dan tidak sesuai proyeksi awal tahun yang mencapai 10.000 unit,. Penurunan harga komoditas membuat daya beli konsumen di dalam negeri semakin menurun sehingga kami harus merevisi target produksi tahun ini", tutur Dewo di Jakarta.

Selain harga komoditas, penurunan permintaan alat berat di sektor pertambangan akibat dari pemberlakuan bea keluar ekspor barang mineral non olahan sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara. Aturan tersebut melarang ekspor barang mineral non olahan pada 2014 sehingga mempengaruhi industri alat berat nasional.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1073352
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT