Runtuhnya Tambang Bawah Tanah Freeport
NON RUBIK Runtuhnya Tambang Bawah Tanah Freeport
___________________________________________________________________________Peristiwa runtuhnya fasilitas pela­tihan tambang bawah tanah Freeport di area Big Gossan, Timika Papua, telah menyita perhatian dari berbagai pihak tak terkecuali pemerintah. Terlebih kejadian tersebut telah memakan kor­ban sebanyak 38 orang, 28 di antaranya tewas, lima orang luka ringan dan lima lainnya luka berat. Musibah runtuhnya batuan itu sendiri terjadi pada 14 Mei 2013 pukul 7.30. Area tambang Big Gossan sendiri me­miliki panjang 250 kilometer dan telah berusia 15 tahun. Terkait dengan tragedi tersebut Presiden dan CEO Freeport Mcmoran Copper & Gold Inc, Richard C. Adkerson menegaskan bahwa peristiwa longsornya fasilitas pelatihan tambang bawah tanah di area Big Gossan, Timika Papua, bukanlah kecelakaan pertambangan."Saya ingin menggaris bawahi kalau tempat pelatihan berada jauh dari ke­giatan pertambangan aktif jadi kejadian ini bukan kecelakaan pertambangan," ujarnya. Richard juga menjelaskan kalau lokasi kejadian berada sekitar 2,7 kilometer dari lokasi tambang Grasberg dan sekitar 2 kilometer dari lokasi tambang Deep Orezone (DOZ), serta berjarak 500 meter dari area Big Gossan. Tempat pelatihan itu dibangun tahun 1998 dan dua tahun kemudian digunakan oleh departemen pelatihan Freeport. "Kejadian ini hanya terjadi di ruangan training. Ruangan di se­belahnya seperti kantin maupun kelas lain tidak terkena dampak," jelasnya. Menurut Richard wilayah operasi Pa­pua berada di katulistiwa termasuk dalam kategori kesulitan luar biasa dan membutuhkan teknologi cang­gih. Tingkat curah hujan yang tinggi membutuhkan pengelolaan air yang tepat. Oleh karena itu wilayah pertambangan dirancang dan diope­rasikan dengan mengutamakan kesela­matan pekerja.Atas kejadian ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membentuk tim untuk menginvestigasi runtuhnya batuan di ruang pelatihan area tambang tersebut. Menurut menteri ESDM Jero Wacik tim yang dikirim untuk melakukan investigasi berisi tim ahli dan independen.“Secara teknis semua akan dicek, jika ditemukan kesalahan dari pihak Freeport, kita tentu akan memberikan sanksi,” tegas Jero. Sebelumnya, Pre­siden Susilo Bambang Yudhoyono juga memberikan instruksi untuk melakukan investigasi dan mengecek keamanan seluruh tambang. Sementara itu, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso juga meminta agar PT Freeport Indonesia tak lepas tanggung jawab jika hasil investigasi menemukan adanya kelalaian yang memicu ke­celakaan. Priyo meminta Freeport bertanggung jawab di depan hukum. Keterangan tersebut disampaikan Pri­yo saat menerima kedatangan CEO Freeport McMoRan Copper Gold Inc, Richard C Adkerson, dan Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Rozik B Soetjipto, di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Priyo juga mengatakan, apabila hasil investigasi pada kecelakaan kerja itu tak ditemukan kelalaian, pihak Freeport tetap diminta bertanggung jawab secara sosial. Tanggung jawab itu antara lain dengan memberi santunan pada keluarga korban, menjamin pen­didikan anak-anak mereka, serta mem­prioritaskan keturunan korban untuk dapat bekerja di PT Freeport. “Terowongan itu juga harus dicek untuk skema keamanan selanjutnya," ujar Priyo. Adapun terkait dengan musibah ini maka kegiatan penambangan PT Freeport Indonesia baru akan dibuka kembali setelah investigasi runtuhnya atap terowongan tambang bawah tanah Big Gossan usai. Soal kapan investigasi akan selesai belum bisa dipastikan, demikian pula kapan izin memulai kembali kegiatan penambangan dapat diberikan oleh Inspektorat Pertambangan Kementerian ESDM. Menurut Wakil Menteri (Wamen) Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo pemerintah telah menunjuk tiga orang inspektur tambang dari pusat serta tiga orang inspektur dari Provinsi Papua dan Kabupaten Mimika untuk mengumpulkan data dan melakukan investigasi. Pemerintah juga membentuk tim independen dari sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan investigasi atas insiden ini.Susilo yang yang datang langsung meninjau terowongan Big Gossan di Mil 74, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika berharap pemerintah dan Freeport mau mengundang ahli luar negeri misalnya dari Afrika Selatan, sehingga bisa lebih jernih melakukan investigasi. Hasil investigasi pada gilirannya akan digunakan untuk mengambil langkah selanjutnya. "Bisa saja kita meminta Freeport agar tempat training yang ambruk tidak usah digunakan atau tetap dipakai tetapi dengan berbagai perbaikan yang harus dilakukan," urainya.Secara internal pihak Freeport juga melakukan audit terhadap semua fasilitas tambang dengan melibatkan para pekerja dalam proses tersebut. Seperti dikutip Kompas EVP dan General Manager PT Freeport Indonesia Nurhadi Sabirin mengatakan, audit dilakukan untuk memastikan kondisi dan keamanan para pekerja saat operasional penambangan kembali dilaksanakan. Selama pekerja memblokade jalan tambang sebagai bentuk solidaritas untuk para korban reruntuhan, menurut Nurhadi, perawatan tambang baik tambang terbuka maupun bawah tanah tetap dilakukan sebagai pengecualian. Perawatan tetap harus dilakukan karena berkaitan dengan keselamatan pekerja saat ini maupun di masa mendatang. "Seperti lereng di tambang terbuka, jika kita biarkan, air bisa mengalir ke lereng-lereng ini, bisa mengakibatkan lereng menjadi rapuh. Sehingga harus melakukan (perawatan) itu. Walaupun kami tidak berproduksi, kami tetap menjalankan pompa dan melakukan perawatan jalan," papar dia.Selama masa evakuasi korban reruntuhan terowongan dilakukan dan produksi dihentikan perawatan tetap dilakukan selama 24 jam guna memastikan semua fasilitas tambang aman. Menurut Nurhadi inspektur tambang juga tetap meminta agar terus melakukan perawatan sekalipun menghentikan produksi. "Kondisinya saat ini baik, strukturnya baik semua. Tim pemantau lereng selama 24 jam selalu berada di lapangan untuk melakukan pengecekan," ujar dia. Pengecekan sendiri dilakukan dengan dua cara yakni manual, serta menggunakan radar yang dimonitor di ruang pemantau. Selama seminggu produksi terhenti, Nurhadi mengatakan tidak ada pergerakan yang terjadi lereng-lereng tambang. Dia memastikan bahwa audit pasca-runtuhnya atap terowongan Big Gossan bakal melibatkan para pekerja untuk meyakinkan kondisi keselamatan di areal pertambangan.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1052842
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT