4 Perbankan Yang Aktif Memberikan Kredit Pertambangan
RAGAM 4 Perbankan Yang Aktif  Memberikan Kredit Pertambangan
___________________________________________________________________________Perbankan merupakan instrumen penting bagi pembiayaan dunia usaha dan industri termasuk sektor pertambangan. Dalam kurun waktu terakhir industri pertambangan cukup menyedot perhatian perbankan. Meski untuk saat ini industri pertambangan tengah melemah akibat turunnya harga komoditas global. Permintaan atas kredit valuta asing (valas) juga menurun namun hal tersebut sepertinya tidak menyurutkan minat pihak perbankan untuk menyalurkan kredit terhadap sektor ini. Seperti yang diungkapkan oleh Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (BNI), Gatot Mudiantoro Suwondo beberapa waktu lalu bahwa komitmen BNI untuk membiayai sektor pertambangan terutama non migas tetap tinggi. Pasalnya, sektor tersebut merupakan salah satu dari delapan sektor unggulan yang menjadi fokus penyaluran kredit BNI. Menurut Mudiantoro, sektor pertambangan tetap akan berkembang setidaknya hingga lima tahun ke depan, karena itu dalam kurun waktu yang sama BNI juga tetap fokus di sektor tersebut. Terlebih, komitmen BNI juga sejalan dengan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun pemerintah. Dalam program tersebut, pertambangan non migas berupa batubara, nikel, tembaga, dan bauksit, merupakan bagian dari 22 kegiatan ekonomi utama.Dari enam koridor ekonomi pada MP3EI, pemerintah juga telah mengidentifikasi empat koridor, yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua-Maluku, untuk pengembangan sektor pertambangan dan energi. Dalam beberapa waktu terakhir kontribusi pertambangan non migas tergolong cukup besar terhadap perekonomian Indonesia. Dari 6 persen pada 2009 menjadi 6,8 persen pada 2011, dan penyumbang terbesarnya berasal dari sektor batubara. Sementara, menurut Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Destry Damayanti mengatakan, Bank Mandiri telah membukukan pertumbuhan kredit valas ke batubara sebesar 43 persen pada 2011. Namun, belakangan perseroan menyetop kredit valas ke perusahaan batubara, kecuali untuk keperluan operasional perusahaan tersebut. Bank Indonesia (BI) sendiri mencatat, total penyaluran kredit bank umum kepada sektor pertambangan dan penggalian mencapai Rp89,09 triliun hingga Agustus 2012 atau bertumbuh 18,27 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp75,33 triliun. Dengan segala peluang dan risikonya industri pertambangan tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi perbankan. Lalu perbankan BUMN dan swasta mana saja yang tetap memiliki orioritas untuk menyalurkan program kredit pada sektor pertambangan. Bank MandiriBank pemerintah dengan aset terbesar di tanah air ini pada tahun 2012 lalu, mencetak laba bersih sebesar Rp 15,5 triliun atau melonjak 26,6% dibandingkan perolehan 2011 sebesar Rp 12,2 triliun. Salah satu upaya dari Mandiri untuk mendapatkan laba tersebut adalah dengan melakukan penyaluran kredit. Langkah ekspansi ini terbukti mampu mendorong keuangan positif bank mandiri sepanjang tahun 2012. Dari sekian banyak kredit yang disalurkan Rp 21,6 triliun diberikan pada ke sektor pertambangan.Menurut Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Destry Damayanti, di tengah menurunnya harga komoditas dan permintaan global yang melemah ekspor batubara nasional hingga kuartal II-2012 masih bertumbuh 14 persen. Meski demikian Destry juga mengatakan bahwa pasar sektor pertambangan masih belum pasti karena harga komoditas tambang, khususnya batu bara belum menunjukkan perbaikan signifikan. Situasi itu juga terkait pemulihan ekonomi global.Artinya tambang dan komoditas menjadi sektor yang agak berisiko bagi perbankan. Apalagi masih ada ketidakjelasan aturan ekspor komoditas mineral.Meski pada sisi lain Destry juga melihat bahwa untuk penyaluran ke ekonomi domestik potensinya sangat besar. Di antaranya adalah program energi 10 ribu megawatt untuk mendukung MP3EI. Jika proyek ini bisa dijalankan minimal 4 ribu megawatt saja, maka akan dibutuhkan jutaan ton batubara untuk mendukungnya. Pendapat tersebut juga dikuatkan oleh Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri, Pahala Nugraha Mansury bahwa sektor pertambangan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda kesulitan atau penundaan pembayaran. Sehingga, perseroan masih mencatat kualitas kredit yang baik ke sektor tersebut.Kredit pertambangan yang dimiliki oleh Mandiri sendiri terbagi atas beberapa mulai dari kredit modal kerja, investasi pertambangan, impor tambang dan bank garansi tambang. Artinya bank BUMN ini akan tetap memberikan perhatian besar terhadap sektor pertambangan sebagai bagian dari bisnisnya.Bank Negara Indonesia (BNI) Sekitar pertengahan 2012 lalu, kredit pertambangan non migas yang disalurkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI naik 42%, dari posisi Rp 1,74 triliun pada akhir 2011 menjadi Rp 2,12 triliun. Pada tahun 2011 kredit BNI untuk pertambangan baik sektor migas dan non migas mengalami pertumbuhan sebesar 68% dengan nilai sekitar Rp. 11,9 triliun. Dari total yang ada tersebut masih didominasi oleh pertambangan di sektor migas. Meskipun konsentrasi pihak BNI terhadap sektor non migas juga tinggi. Sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (BNI), Gatot Mudiantoro Suwondo bahwa secara umum perbankan nasional telah siap menjadi partner strategis bagi industri pertambangan non-migas. Perbankan juga siap menjadikan sektor ini sebagai andalan sekaligus salah satu motor penggerak perekonomian nasional. Hasilnya bisa dilihat tumbuhnya kredit sektor ini dari Rp 15,2 triliun di tahun 2009 menjadi Rp 50,4 triliun pada pertengahan tahun 2012.Pertumbuhan tersebut jika dirata-rata mencapai persentase sekitar 50% per tahun atau jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan total kredit perbankan yang rata-rata berkisar 25% per tahun. Pertumbuhan yang signifikan tersebut, didukung pula oleh rasio non performing loan (NPL) sektor pertambangan non-migas yang menurun dari 4,4% di tahun 2009 menjadi 0,9% pada pertengahan tahun 2012. Meskipun potensi pengembangan kredit pertambangan masih sangat terbuka, Gatot mengingatkan kalangan pelaku usaha pertambangan nasional agar menyadari adanya beberapa critical risk faktor yang menjadi pertimbangan perbankan pada saat menilai kelayakan kredit.Faktor risiko kritis itu adalah ketersediaan dan keekonomisan deposit tambang, stripping rasio yang memadai, serta ketersediaan atau jaminan adanya pembeli atau pemasok jasa penambangan.Selain itu, ada juga risiko ketersediaan infrastruktur atau fasilitas tambang yang memadai. Bank Permata Sebagai salah satu Bank yang memberikan fasilitas kredit pertambangan PT Bank Permata Tbk pada tahun ini cenderung memperketat penyaluran kredit wholesale pada sektor sumber daya alam. Seperti yang dikatakan oleh Direktur Wholesale Banking Bank Permata, Roy Arfandy bahwa pihaknya akan lebih menyeleksi nasabah dari sektor sumber daya alam, terutama pertambangan batubara dan komoditas lainnya. Kendati diperketat akan tetapi dari sisi kontribusi tidak akan dikurangi. Sebelumnya, kontribusi kredit wholesales dari sektor sumber daya alam mencapai 8 persen dari keseluruhan kredit wholesales.Salah satu perusahaan yang mendapat kucuran dana kredit adalah Anak usaha PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) dengan jumlah kredit senilai US$35,05 juta. Pinjaman tersebut akan digunakan untuk membiayai pembangunan proyek pengembangan tambang PT Triaryani termasuk akuisisi lahan tambang dan pembangunan infrastruktur jalan dari lokasi tambang menuju pelabuhan. Selain itu, PT Ancora Indonesia Tbk (OKAS) melalui anak usahanya PT Multi Nitrotama Kimia (MNK) juga telah menandatangani perubahan perjanjian dengan PT Bank Permata Tbk (BNLI) dengan total pinjaman US$75 juta. MNK sendiri merupakan perusahaan produsen bahan peledak yang digunakan untuk industri pertambangan.BNP Paribas PT Bank BNP Paribas Indonesia juga salah satu bank swasta yang cukup aktif terlibat dalam penyaluran kredit pertambangan. Bank yang pada pada awalnya sebagai PT Bank BNP Lippo Indonesia ini tercatat pada tahun 2011 memberikan kredit hingga plafon US$ 600 juta. Artinya secara umum BNP Paribas tetap melihat bahwa sektor pertambangan akan mencapai pertumbuhan dua digit dalam lima tahun ke depan. BNP Paribas masih melihat pasar pertambangan Indonesia tetap berpotensi untuk tumbuh. Seperti yang diungkapkan oleh Regional Head BNP Paribas Gautier Dirckx bahwa pertambangan telah menjadi sektor yang semakin strategis di Indonesia.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1035277
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT