Air Terjun Moramo : Cahaya Hijau “Menari” Menggoda Mata
TRAVELING Air Terjun Moramo : Cahaya Hijau “Menari” Menggoda Mata
___________________________________________________________________________Air mengalir membentuk kontur tujuh tingkat utama dan 60 tingkatan kecil dengan ketinggian 100 meter membuat penat hilang setelah berjalan 30 menit menapak hutan. Airnya jatuh ke kolam yang konon menurut legenda di sini tempat para bidadari mandi. Itulah air terjun Moramo. Salah satu tempat wisata yang patut dikunjungi bila anda pergi ke Provinsi Sulawesi Tenggara. Tanpa sengaja, warga yang sedang membuka hutan di kawasan hutan Tanjung Peropa di Desa Sumber Sari, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara mendengar suara air mengalir. Padahal di kawasan hutan itu – waktu tahun 1980 – 1982 belum dijamah. Rasa penasaran dari seorang pembabat hutan itu, mendorongnya mencari tahu sumber suara air mengalir. Tak urung hutan pun terus dibabat. Tak dinyana, ia menemukan air terjun. Tiga puluh-an tahun silam, tak terbayangkan ada air terjun seindah ini. Kisahnya dimulai dari warga transmigrasi asal Jawa sedang berburu Anoa di hutan. Anoa adalah binatang khas Sulawesi yang mirip kerbau. Binatang ini acap diburu para pendatang asal Jawa-Bali untuk disantap dagingnya. Mereka memburu dengan cara membuka hutan untuk memasang jerat. Penemuan tak sengaja itu menbawa berkah bagi pemerintah Kabupaten Konawe Selatan dan masyarakat setempat. Tempat itu kini menjadi magnet. Sejak tahun 1989 Air terjun Moramo dibuka menjadi objek wisata. Dari mulai anda memasuki kawasan hutan suaka alam Tanjung Peropa ini, pengunjung harus berjalan kaki sepanjang 2 km. Waktu tempuh 30 menit menelusuri jalan kecil menjadi perjalanan yang mengasyikkan. Ada sebuah anak tangga yang harus dilewati. Lepas dari situ, jembatan kayu tua menyambut anda. Anda pun harus melangkahkan kaki di jalur ini. Di bawahnya mengalir air membelah kali. Oh, mempesona!Kawasan hutan suaka alam yang memiliki luas 38.937 hektar ini masih terjaga keasriannya. Hutan tropis yang mengelilingi air terjun Moramo mampu menghadirkan rona lembah. Suhu udara sejuk di kawasan itu memperkaya panorama. Sepanjang mata memandang nuansa hijau mengepung pengunjung. Dan habitan penghuni di hutan tak terusik. Kicauan burung saling bersahutan. Berbagai jenis kupu-kupu serta satwa endemik Sulawesi seperti monyet hitam dan anoa masih dapat dijumpai di sana. Ini merupkan bukti bahwa keseimbangan ekositem terjaga.Sementara ragam fauna di kawasan hutan ini menjadi daya tarik tersendiri. Di sini terdapat hutan pantai, hutan bakau dataran rendah dan hutan belukar. Hutan-hutan tersebut bersatu dan berkumpul membentuk komposisi areanya.Kekhasan air terjun ini dibandingkan air terjun-air terjun yang ada di tempat lain adalah daerah batuan kapur yang menyebabkan undakan-undakan batunya tidak licin dipanjat pengunjung hingga puncak. Batuan tersebut memberi pesona yang menakjubkan ketika tersentuh sinar mentari. Bila sinar matahari menyentuh permukaan batu, maka akan terproyeksi kilauan warna-warni yang didominasi warna hijau. Pantulan itu seakan “menari-nari” ketika dihembus riak gelombang air ketika sinar mentari menyentuh bebatuan yang berada di dasar kolam tempat berhentinya air.Air terjun Moramo berasal dari Sungai Biskori yang berhulu di Pegunungan Tambolosu. Aliran dari sungai dimanfaatkan masyarakat sebagai pengairan sawah. Sebagian masyarakat di sini berasal dari transmigrasi Jawa dan Bali. Di sudut-sudut sawah di sana, masih dijumpai sanggah, yaitu tugu tempat sajen orang Hindu-Bali.Memang di beberapa daerah di Indonesia ada air terjun mempunyai kontur alam yang bertingkat. Air terjun jenis ini kerap disebut air terjun bertingkat. Sebut saja air terjun bertingkat di provinsi Riau. Sedangkan air terjun Moramo memiliki tujuh tingkat utama dan 60 tingkat kecil. Ini sebuah kreasi alam. Fenomena ini terbentuk secara alami selama ribuan tahun. Bila anda memandang air meluncur deras pada batu granit besar bersusun dengan ketinggian berkisar 0,5 hingga 3 meter, anda makin takjub melihatnya. Orang Konawe (masyarakat setempat) percaya legenda bahwa bidadari kerap turun dari langit untuk mandi di tempat ini.Tidak ada tempat di Indonesia yang setenang seperti air terjun Moramo. Lokasinya terletak 2 km di dataran tinggi, dengan 127 anak air terjun yang bertingkat dan terpisah. Puncak air terjun itu sendiri tingginya sekitar 100 meter di atas kolam air (sungai). Terdapat tujuh tempat utama, yang masing-masing memiliki tempat mandi yang alami.Bagi mereka yang memiliki hobby photography, kawasan air Moramo memiliki banyak objek menarik untuk dibidik. Pantulan Kehijauan dari aliran sungai turun beraturan di ke tujuh tingkat lalu mengalir ke puluhan tingkatan-tingkatan besar maupun kecil di sepanjang aliran, sungguh menciptakan komposisi yang selalu menarik di setiap angle dari sudut mana pun anda mengabadikannya.Kawasan Suaka Alam Tanjung Peropa yang menjadi tempat Air Terjun Morami memiliki kandungan marmer (onyx) terbesar di dunia. Diperkirakan ada sekitar 860 miliar meter kubik marmer tersimpan di sini dan menjadi salah satu sumber cadangan marmer terbesar yang pernah ada di Indonesia.Untuk mencapai lokasi air terjun ini cukup mudah. Dengan menggunakan mobil pribadi atau sewaan, dari kota Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara ke Desa Sumberasih membutuhkan waktu 2,5 jam dengan jarak tempuh sejauh 65 kilometer. Sampai di pintu masuk suaka alam Tanjung Peropa ini, pengunjung harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer selama 30 menit.
headerrubrikasi
Subscribe Our Newsletter put your e-mail
advertisement
Copyright © 2012, PT. BORNEO BAROMETER MAGAZINE 99. All Right Reserved
cover 1
cover 2
cover 3
cover 21
cover 22
Visitor 1073664
cover edisitaurianwakeni2
Jasa Pembuatan Website By IKT